sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Turki: Tidak akan ada gencatan senjata di Suriah

Turki terus menggempur militan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) di Suriah tanpa mengindahkan sanksi AS dan seruan internasional.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 16 Okt 2019 13:07 WIB
Turki: Tidak akan ada gencatan senjata di Suriah

Pada Selasa (15/10), Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Ankara tidak akan pernah mengumumkan gencatan senjata di timur laut Suriah. Dia menegaskan, pihaknya tidak akan sudi bernegosiasi dengan pasukan Kurdi.

Hingga Selasa, Turki terus menyerang militan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) di Suriah utara terlepas dari sanksi AS dan seruan internasional yang meminta Ankara untuk berhenti.

YPG, komponen utama dari pasukan yang memerangi ISIS, dipandang Turki sebagai kelompok teroris yang terkait dengan pemberontak separatis Kurdi.

Pada Senin (14/10), Trump mengumumkan telah menjatuhkan sanksi pada Turki. Itu merupakan tanggapan atas operasi militer Ankara di Suriah.

Kemudian pada Selasa, seorang pejabat senior AS mengatakan bahwa Washington akan menjatuhkan lebih banyak sanksi kecuali Turki menyatakan gencatan senjata dan menghentikan agresi militernya di Suriah.

Namun, Erdogan menyatakan serangan Turki akan berlanjut sampai mereka mencapai tujuannya. Dia menambahkan, pihaknya tidak mengkhawatirkan sanksi AS.

"AS mengatakan 'umumkan gencatan senjata'. Kami tidak akan pernah mendeklarasikan gencatan senjata," kata dia. "Mereka menekan kami untuk menghentikan operasi ini dan mereka menjatuhkan sanksi. Tetapi kami tidak khawatir dengan sanksi apa pun."

Erdogan mengatakan dalam panggilan teleponnya dengan Trump, kedua pihak sepakat untuk membahas persoalan sanksi dan mencoba mencari kesepakatan.

Sponsored

Gedung Putih pada Selasa mengumumkan bahwa Wakil Presiden Mike Pence akan bertemu dengan Erdogan di Ankara pada Kamis (17/10).

Keputusan Trump untuk menarik puluhan pasukan AS dari Suriah utara pada pekan lalu telah membuka jalan bagi serangan Turki. Langkah Washington juga memberikan keuntungan bagi saingannya, Presiden Suriah Bashar al-Assad serta sekutunya, Iran dan Rusia.

Akibat aliansi baru antara Suriah dan Kurdi yang dibentuk pada akhir pekan lalu, pemerintah telah mengerahkan tentara ke wilayah yang dikuasai otoritas Kurdi.

Ketika ditanya mengenai pasukan Suriah ke kota utara, Manbij, Erdogan mengatakan dia tidak terganggu.

"Saya tidak memandang negatif pasukan Suriah yang memasuki Manbij. Mengapa? Karena itu memang tanah mereka. Yang penting bagi saya adalah agar organisasi teroris itu tidak menetap di sana," tegas Erdogan, merujuk pada YPG.

Erdogan mengatakan bahwa serangan di Manbij pada Selasa, yang menewaskan satu tentara Turki, diluncurkan oleh pemerintah Suriah. Dia menyatakan akan mengambil tindakan untuk membalas agresi itu.

Secara terpisah, kantor kepresidenan Turki pada Selasa malam menyatakan bahwa Erdogan telah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin melalui telepon. Dia menuturkan, serangan Ankara berkontribusi pada tindakan kontraterorisme, integritas wilayah Suriah dan upaya mencari solusi politik. 

Kanada tangguhkan ekspor senjata

Pada Selasa, Kanada mengumumkan telah menangguhkan izin ekspor peralatan militer ke Turki, sebagai tanggapan terhadap serangan Ankara ke Suriah utara.

"Kanada dengan tegas mengutuk serangan militer Turki ke Suriah," jelas Kementerian Luar Negeri dalam pernyataannya.

Kemlu Kanada menyebut, tindakan sepihak itu berisiko merusak stabilitas kawasan yang sudah rapuh, memperburuk situasi kemanusiaan dan menghambat kemajuan melawan ISIS.

Langkah Ottawa tersebut mengikuti tindakan serupa oleh sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis dan Jerman.

Kemlu Kanada mencatat, penjualan senjata Kanada ke Turki mencapai hampir US$87 juta pada 2018. (Reuters dan Times of Israel)