sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Vaksin Covid-19 yang terbuang sia-sia

Di tengah kebutuhan terhadap vaksin Covid-19, beberapa negara justru membuang vaksin.

Fandy Hutari
Fandy Hutari Kamis, 21 Okt 2021 15:16 WIB
Vaksin Covid-19 yang terbuang sia-sia

Petaka terjadi di sebuah pabrik produksi vaksin di Baltimore, negara bagian Maryland, Amerika Serikat. Pada Februari 2021, para pekerja yang ceroboh, tak sengaja mencampur bahan-bahan vaksin Johnson & Johnson dan AstraZeneca. Akibatnya, 15 juta dosis vaksin Johnson & Johnson rusak.

Dikutip dari The New York Times, 31 Mei 2021, insiden tersebut memaksa regulator menunda jalur produksi vaksin. Pabrik itu dijalankan Emergent BioSolutions, yang merupakan mitra produksi vaksin Johnson & Johnson dan AstraZeneca. Pejabat federal mengaitkan hal itu dengan kelalaian manusia.

“Kesalahan itu sangat memalukan bagi Johnson & Johnson, yang vaksin dosis pertamanya dipuji karena turut mempercepat program vaksinasi nasional di Amerika Serikat,” tulis The New York Times, 31 Mei 2021.

Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson dan AstraZeneca menggunakan teknologi yang sama, yakni memanfaatkan virus yang tak berbahaya—dikenal sebagai vektor—yang ditransmisikan ke dalam sel untuk membuat protein yang bisa merangsang sistem kekebalan dan memunculkan antibodi. Namun, bahan vaksin Johnson & Johnson dan AstraZeneca secara biologis berbeda dan tak bisa disatukan.

Insiden pekerja yang melakukan kesalahan dengan mencampurkan bahan kedua vaksin itu menimbulkan pertanyaan terkait pelatihan dan pengawasan. Tahun lalu, Emergent BioSolutions telah mempekerjakan dan melatih ratusan pekerja baru untuk memproduksi jutaan dosis kedua vaksin.

Menurut The New York Times, kesalahan dalam produksi vaksin bisa merusak batch. Celakanya, kelalaian pabrik milik Emergent BioSolutions itu tak terungkap selama berhari-hari. Hingga akhirnya ada pemeriksaan kualitas vaksin Johnson & Johnson dan pengakuan beberapa orang bahwa 15 juta dosis vaksin sudah terkontaminasi.

 Ilustrasi vaksin Moderna./Foto Unsplash.com

Negara yang membuang vaksin

Sponsored

Menurut laporan The Washington Post, 11 Juni 2021, Food and Drug Administration (FDA)—BPOM-nya Amerika Serikat—memutuskan turut pula membuang 60 juta dosis vaksin Johnson & Johnson yang dibuat di pabrik Emergent BioSolutions, di luar 15 juta yang sudah dibuang karena terkontaminasi vaksin AstraZeneca. Keputusan itu diambil karena badan tersebut tak bisa menentukan apakah vaksin tersebut aman digunakan.

Kasus vaksin rusak dan terbuang sia-sia, di tengah kebutuhan masyarakat dunia tak hanya terjadi di pabrik milik Emergent BioSolutions. Di Jepang, pada Juni 2021 lebih dari 7.000 dosis vaksin Covid-19 dibuang.

Menurut Reuters, 6 Juni 2021, sebuah rumah sakit dan pusat vaksinasi massal di Negeri Sakura itu masing-masing harus membuang sekitar 1.000 dosis vaksin Pfizer-BioNTech. Sebabnya, vaksin itu sudah kedaluwarsa dalam penyimpanan. Sementara 12 dosis terbuang sia-sia di sebuah bangsal di Tokyo karena pengenceran berlebih.

“Kami sangat menyesal harus membuang vaksin yang berharga karena salah urus, ketika banyak penduduk sangat ingin divaksinasi,” kata pihak Omuta National Hospital di Fukouka, salah satu rumah sakit yang menyimpan vaksin, seperti dikutip dari Reuters.

Insiden ini merupakan pukulan telak bagi Jepang yang tengah berjuang mengendalikan gelombang keempat pandemi dan persiapan menuju Olimpiade Tokyo pada 23 Juli 2021 lalu. Sementara itu, laporan CNBC, 1 September 2021 menyebut, Amerika Serikat telah membuang setidaknya 15,1 juta dosis vaksin Covid-19 sejak 1 Maret 2021.

“Empat rantai farmasi nasional masing-masing melaporkan lebih dari 1 juta dosis terbuang, menurut data yang dirilis Centers for Disease Control and Prevention (CDC),” tulis CNBC.

“Data yang dirilis CDC dilaporkan sendiri oleh apotek, negara bagian, dan penyedia vaksin lainnya.”

Presiden Joko Widodo meninjau vaksinasi COVID-19 secara pintu ke pintu, di Kelurahan Karang Rejo, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, Selasa (19/10/2021)./Foto BPMI Setpres/Laily Rachev/Setkab.go.id.

Pembuangan, yang disebut sebagai pemborosan itu, didasari berbagai alasan, seperti botol retak, kesalahan mengencerkan vaksin, kerusakan mesin pendingin, hingga dosis yang terlewat usai suntikan pertama.

Ironisnya, kata seorang profesor hukum kesehatan global dari Universitas Warwick, Inggris, Sharifah Sekalala, pembuangan vaksin itu terjadi di tengah banyaknya negara Afrika yang bahkan belum memberikan vaksinasi 5% dari populasi mereka.

Di Estonia, menurut laporan Reuters, 29 Juni 2021, pemerintahnya membuang 68.000 dosis vaksin AstraZeneca karena kegagalan penyimpanan dalam lemari es, yang suhunya naik 15 derajat Celcius.

“Sistem alarm gagal menginformasikan kesalahan, yang berlangsung selama lebih dari 12 jam dan baru terdeteksi setelah seorang karyawan masuk ke ruang pendingin,” tulis Reuters.

Pada Mei 2021, Hong Kong pun membuang jutaan vaksin karena kedaluwarsa. Menurut The Guardian, 25 Mei 2021, kota berpenduduk 7,5 juta orang itu membeli vaksin Pfizer-BioNTech dan Sinovac. Namun, hanya 2,1 juta orang yang sudah menerima dosis vaksin, sejak program vaksinasi diluncurkan akhir Februari 2021.

Mantan pengawas pusat perlindungankKesehatan Thomas Tsang dan anggota satgas vaksin pemerintah mengatakan, hanya ada waktu tiga bulan untuk menggunakan batch pertama vaksin Pfizer-BioNTech.

Bukan hanya negara maju, negara miskin di Afrika juga pernah membuang vaksin. Malawi misalnya, menghancurkan nyaris 20.000 dosis vaksin AstraZeneca, sedangkan Sudan Selatan membuang 59.000 dosis.

“Kedua negara telah menerima vaksin-vaksin ini dari Uni Afrika, tetapi belum dapat memberikannya hingga tanggal kedaluwarsa 13 April,” tulis BBC, 20 Juni 2021.

Kongo juga menyatakan tak bisa menggunakan sebagian besar dari 1,7 juta dosis vaksin AstraZeneca yang diterima di bawah skema Covax global untuk negara-negara miskin lantaran mendekati tanggal kedaluwarsa.

Penyebab vaksin terbuang

Dari beberapa kasus terbuangnya vaksin Covid-19 di negara-negara tersebut, penyebabnya kesalahan produksi, kedaluwarsa, dan penyimpanan yang bermasalah. Mayoritas kasus vaksin Covid-19 yang terbuang karena kedaluwarsa dan penyimpanan yang bermasalah.

Menurut Jenna Sherman dalam artikel pendeknya “What happens if you get an expired vaccine?” di Health Desk, 18 Mei 2021, vaksin yang sudah kedaluwarsa membuat keefektifannya berkurang. Ia pun menyebut, menggunakan vaksin yang telah kedaluwarsa dapat menyebabkan reaksi berbahaya, meski tak banyak kasus yang terdokumentasi tentang hal ini.

Dikutip dari The Associated Press, 4 Juni 2021, dalam artikel “Explainer: Why and when do Covid-19 vaccines expire?” banyak obat dan vaksin bisa bertahan selama bertahun-tahun, jika disimpan dengan benar. Namun, keefektifannya dapat hilang.

“Tanggal kedaluwarsa untuk vaksin ditentukan berdasarkan data yang diajukan produsen kepada regulator, yang membuktikan berapa lama suntikan tetap pada kekuatan yang tepat,” kata mantan kepala vaksinasi FDA, Norman Baylor, dikutip dari The Associated Press.

Pengujian kedaluwarsa itu bisa bervariasi, tergantung jenis vaksinnya. Beberapa vaksin, seperti vaksin tetanus, dapat bertahan dua tahun jika disimpan dengan tepat. Sedangkan vaksin Covid-19 yang dibuat Pfizer-BioNTech, Moderna, dan Johnson & Johnson dapat bertahan hingga sekitar enam bulan, sejak waktu pembuatannya dan tergantung cara penyimpanannya.

“Tetapi tanggal kedaluwarsa vaksin Covid-19 dapat diperpanjang karena perusahaan terus menguji sampel batch dalam beberapa bulan, sejak suntikan pertama,” ujar Baylor.

Indonesia kedatangan vaksin Covid-19 tahap 50 di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Senin (6/9/2021)./Foto YouTube Sekretariat Presiden.

Akan tetapi, problem muncul bagi negara-negara yang jauh dari lokasi pabrik pembuatan vaksin dan jangkauan penduduk di negara tersebut. Misalnya negara-negara di Afrika.

Dikutip dari BBC, 8 Juni 2021, selain layanan kesehatan yang lemah, Kongo bermasalah dengan jaringan transportasi yang sangat buruk. Hal ini membuat distribusi vaksin ke daerah-daerah terpencil menjadi masalah utama negara itu.

Kedaluwarsa vaksin juga disebabkan dosis vaksin yang menumpuk, akibat banyak penduduk tak mau disuntik. Di Sudan Selatan, petugas kesehatannya enggan divaksinasi. Ahli virologi Malawi, Gama Bandawe, seperti dilansir dari BBC, mengatakan bahwa ketidakpercayaan terhadap vaksin memainkan peran di negara yang tak bisa menggunakan semua persediaan vaksin yang sudah diterima.

Di Hong Kong, vaksin Covid-19 kedaluwarsa juga karena sebagian penduduknya tak mau divaksin. Menurut The Guardian, 25 Mei 2021, hal itu terjadi lantaran warganya dipengaruhi faktor ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah Hong Kong dan China, disinformasi dan misinformasi, serta kurangnya penanganan dari pihak berwenang.

Penyimpanan vaksin yang tak tepat juga menyebabkan vaksin mubazir terbuang. Setiap jenis vaksin Covid-19 memiliki suhu penyimpanan yang berbeda-beda.

Merujuk petunjuk vaksinasi yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Kanada bertajuk “Covid-19: Vaccine storage and handling guidance”, yang dirilis 24 Juni 2021, vaksin Pfizer-BioNTech yang berbasis mRNA harus disimpan di suhu antara -80 hingga -60 derajat Celsius. Sementara vaksin Moderna harus disimpan dalam suhu -25 hingga -15 derajat Celsius.

Vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna harus diangkut dalam keadaan beku dan dicairkan di lokasi vaksinasi sesuai spesifikasi pabrik, serta disimpan pada suhu +2 hingga +8 derajat Celsius sebelum pengenceran.

Vaksin AstraZeneca yang menggunakan hasil rekayasa genetika adenovirus, menurut BC Centre for Disease Control—Dinas Kesehatan yang berpusat di Vancouver, Kanada—harus disimpan dalam lemari es dengan suhu 2 hingga 8 derajat Celsius. Serupa AstraZeneca, vaksin Sinovac yang menggunakan metode inaktivasi virus Corona, dikutip dari BBC, 14 Januari 2021, mesti disimpan di suhu 2 hingga 8 derajat Celsius.

“Ini berarti, vaksin Sinovac dan AstraZeneca jauh lebih aman bagi negara berkembang yang mungkin tak dapat menyimpan vaksin dalam jumlah besar pada suhu serendah (seperti penyimpanan vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna),” tulis BBC.

Berita Lainnya