sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Vietnam ungguli RI soal memanfaatkan peluang perang dagang

Aliran Foreign Direct Investment (FDI) dari Tiongkok ke Vietnam meningkat semenjak perang dagang China-AS.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 28 Nov 2019 16:01 WIB
Vietnam ungguli RI soal memanfaatkan peluang perang dagang
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 22750
Dirawat 15717
Meninggal 1391
Sembuh 5642

Direktur Fasilitas Promosi Regional Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indra Darmawan mengakui, Vietnam lebih unggul dari Indonesia dalam memanfaatkan peluang di tengah perang dagang China-Amerika Serikat. 

Banyak perusahaan Tiongkok, disebut Indra, melakukan relokasi industri ke Vietnam untuk menekan biaya produksi. Aliran Foreign Direct Investment (FDI) dari Tiongkok ke Vietnam pun meningkat semenjak perang dagang China-AS.

Akibat tarif yang meningkat, biaya produksi dan tenaga kerja di China naik. Maka itu, mereka memperluas penanaman modal di Vietnam, khususnya di bidang tenaga kerja, guna menekan biaya produksi.

"Indonesia perlu meningkatkan daya saing. Kunci untuk mengatasi persoalan ini adalah kecepatan dalam merespons dan beradaptasi terhadap perubahan kondisi ekonomi global," kata dia dalam "Diplomatic Forum" di Gedung RRI, Jakarta, pada Kamis (28/11).

Indra mengatakan bahwa Presiden RI Joko Widodo sangat menyadari kebutuhan untuk meraih peluang dari perang dagang. Maka itu, dia mendorong pemerintahannya untuk bergerak cepat melakukan reformasi ekonomi dan menarik investasi asing masuk ke dalam negeri.

Vietnam, menurut Indra, akan menjadi pemain besar di ranah global dalam 10-12 tahun mendatang. Negara itu, tambahnya, sudah bersiap-siap membuka ekonomi mereka ke dunia sejak waktu yang lama.

Lebih lanjut, Indra memaparkan tiga faktor mengapa Tiongkok lebih memilih merelokasi industri ke Vietnam dibanding Indonesia. Faktor pertama merupakan kedekatan geografis.

"Jika perusahaan China ingin merelokasi industri, mereka hanya perlu turun ke selatan. Pemindahan pabrik hanya membutuhkan waktu beberapa bulan," ujar dia. "Secara logis, memang lebih besar kemungkinannya Beijing berbisnis dengan tetangga mereka karena ada kedekatan jarak."

Sponsored

Faktor kedua, ungkapnya, merupakan kemiripan dari pasar China dan Vietnam. Menurut dia, kedua negara memiliki jenis dan selera pasar yang sama.

"Investor China akan lebih mudah mencari pemasok di Vietnam, begitu pula sebaliknya," tambah dia.

Kemudahan akses dan biaya menjadi faktor ketiga dari relokasi industri Tiongkok. Indra menjelaskan bahwa di Vietnam, harga tanah untuk membangun perusahan jauh lebih murah daripada di Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menyatakan, persepsi bahwa korupsi di Indonesia lebih buruk daripada di Vietnam juga menjadi pertimbangan dari relokasi industri Beijing.

Meski kondisi global tidak stabil akibat perang dagang, Bhima memprediksi bahwa pada 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat meraih 4,8%. Namun, menurut dia angka itu masih dapat ditingkatkan.

"Pertumbuhan ekonomi Vietnam sendiri diprediksi di atas 6%. Indonesia harus mampu mengejarnya. Memang kita sudah lebih baik dibandingkan dengan sejumlah negara berkembang lain, tetapi di Asia Tenggara saja kita masih tertinggal," jelas Bhima.

Indonesia, jelas dia, perlu memanfaatkan keunggulan di bidang teknologi serta startup dan menjadikannya nilai tambah dalam rantai nilai global.

"Harus memiliki nilai tambah. Contohnya, Indonesia memiliki lima startup unicorn, Vietnam sama sekali tidak punya. Maka perlu manfaatkan itu untuk mengundang kerja sama dalam bisnis teknologi tinggi dan startup," kata dia.

Berita Lainnya