Gaya Hidup / Telisik

Psikosomatik, dari sakit pikiran ke sakit fisik

Penderita psikosomatik tidak sedang berpura-pura sakit. Gejala yang mereka rasakan ada di luar kontrol sadar, dan tidak dibuat-buat.

Psikosomatik, dari sakit pikiran ke sakit fisik Ilustrasi orang yang mengalami stres./ Pixabay

Rimma Anisa (27) kuat tiga hari tanpa makan. Ia merasa cukup menenggak air putih untuk melepas dahaga, sedang asupan makanan tak terlalu jadi soal buatnya. Sejak gagal dalam hubungan percintaan sepekan sebelumnya, ia memang mengaku lebih banyak fokus pada pekerjaan ketimbang diri sendiri.

“Saya lebih senang bekerja meski kadang pikiran soal mantan itu terasa sangat mengganggu. Saya sering sakit perut dan insomnia, tapi tiap kali ada niat mau makan, selera tiba-tiba hilang,” tuturnya pada Alinea akhir bulan lalu.

Rimma tak memungkiri, ini bukan kali perdana ia berada dalam kondisi itu. “Bertahun-tahun lalu sudah begini. Tiap stres, banyak pikiran, ngaruh ke lambung, pusing, dan jam tidur yang berubah total,” imbuhnya lagi. Ia bahkan pernah berniat bunuh diri suatu waktu. Berat badan pun menurut drastis. Sementara cekungan hitam bawah pelupuk matanya kian kentara.

Ia sendiri telah berulang kali memeriksakan kondisi tubuhnya ke dokter umum. Namun, dokter tak bisa menegakkan diagnosis apapun atas gejala sakit lambung dan imsomnia yang ia derita. Oleh dokter, Rimma justru diarahkan menyambangi psikolog atau psikiater. Ia ingat betul, dokternya bisik-bisik ke perawat saat itu, “Ini pasien sakit di pikiran, karena hasil pemeriksaan tekanan darah, detak jantung, semua normal.”

Rimma bingung. Ia pindah ke dokter lain, tapi hasilnya nihil. Ia merasa sakit betulan, tapi dokter tak kunjung bisa menemukan penyakitnya. Di tengah keputusasaannya, ia mendatangi psikolog bersama teman dekatnya. Di sana ia berbincang nyaris dua jam. Pada akhir sesi pertemuan, psikolog klinis yang ia temui, mendiagnosis Rimma mengalami psikosomatik. Pusatnya di pikiran. Sama seperti trauma dan emosi negatif lain, yang menyerang bagian otak subkortek dan alam bawah sadar.

Dari pikiran turun ke fisik

Terkait gangguan psikosomatik ini, kita tentu sering mendengar nasihat, seperti "Jangan banyak pikiran, ntar sakit". Secara intuitif, Rimma dan orang kebanyakan paham ada hubungan antara pikiran dan tubuh. Pengalaman kolektif berulang spesies homo sapiens, membuat otak kita secara otomatis memiliki alarm khusus. Alarm ini akan mendeteksi saat kita memiliki beban pikiran, yang berimbas pada tubuh yang sakit.

Kenyataannya, proses penubuhan atau somatisasi (soma=tubuh) dari pengalaman psikologis, baik itu pengalaman positif maupun negatif, memang menjadi salah satu faktor utama munculnya gejala fisik. Kondisi psikologis yang lebih stabil dan penuh kebahagiaan diketahui dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan melestarikan kualitas organ dalam lebih lama. Sebaliknya, penderitaan psikologis dapat berubah menjadi berbagai macam keluhan rasa sakit. 

Ilustrasi gangguan psikologis./ Pixabay

Pada dasarnya, selalu ada kontribusi pikiran dalam setiap penyakit. Ada dua jalur utama yang membuat kondisi badan dipengaruhi aspek psikologis. Yang pertama, saat benar-benar menimbulkan perubahan fisik dan menyebabkan gangguan medis. Yang kedua, tidak melibatkan penyebab yang dapat dideteksi secara kedokteran, namun gejala yang ditampilkan nyata. Dengan kata lain, ada gejala tapi tidak ada faktor sebab medis yang bisa dikenali. 

Jalur jenis pertama biasanya terjadi ketika stres atau trauma membuat tubuh selalu dalam keadaan siaga dan menyerap banyak energi. Keadaan tersebut akan menyebabkan berbagai sel dan organ harus bekerja lebih keras dari biasanya.

Sementara, contoh dari jalur jenis kedua umumnya ditandai gejala, semacam rasa lelah yang tak berkesudahan, diare, atau sakit kepala hebat. George Soros, miliarder kelahiran Hungaria yang disebut andil dalam rontoknya nilai tukar rupiah pada 1998 di Indonesia misalnya, mengaku sakit pinggang dan susah tidur karena gangguan psikosomatiknya.

Terkait dengan itu, banyak riset mengonfirmasi, stres dapat menyebabkan tekanan pada organ atau sistem dalam tubuh seperti jantung, ginjal, liver, sistem kekebalan tubuh, pernapasan, dan sistem peredaran darah. Seperti ditulis dalam Jurnal Elsevier, rujukan media kesehatan yang eksis sejak 1880, saat pikiran tertekan, dan tak dibarengi kemampuan menuntaskan masalah, maka akan berimbas pada kesehatan fisik orang yang bersangkutan.

Saat pemeriksaan medis dilakukan, dokter mungkin tidak menemukan indikasi ada keracunan atau bakteri yang menyebabkan si pasien diare. Ini karena sebab utamanya memang bukan "sebab yang biasa", tapi dipicu oleh stres atau kecemasan yang dialami penderita.

Ragam psikosomatik

Selain yang relatif ringan dan lebih sering seperti diare dan sakit kepala (serta berbagai masalah pencernaan lainnya), ada juga ragam psikosomatik yang lebih jarang dan tentu lebih berat. 

Tipe yang paling ekstrim tercakup dalam sebuah istilah diagnosis resmi bertajuk Somatic Symptom Disorder (SSD). SSD. Namun, untuk didiagnosis mengalami SSD, gejala somatisasinya harus bertahan cukup lama dan sudah mengganggu kehidupan secara signifikan. 

SSD maupun gejala psikosomatik yang lebih ringan meliputi berbagai jenis ranah gangguan mulai dari rasa nyeri atau sakit, masalah pencernaan, masalah saraf, sampai pada gangguan fungsi seksual. 

Masalah-masalah tersebut dapat muncul dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda dan kadang hilang sendiri lalu berganti menjadi gejala lain. Contoh, awalnya penderita mengalami sakit kepala, kemudian beberapa jam atau hari kemudian merasa Lelah. Lalu bisa berubah lagi jadi sakit perut atau gatal-gatal. 

Ada juga yang gejalanya konsisten, misal batuk yang tidak sembuh-sembuh, tidak bisa bergerak sama sekali atau lumpuh, tidak bisa bicara, atau tiba-tiba muntah terus menerus tanpa bisa dihentikan oleh obat-obat biasa. 

Perlu disebutkan di sini, mereka yang mengalami psikosomatik tidak sedang berpura-pura sakit. Gejala yang mereka rasakan ada di luar kontrol sadar, dan tidak dibuat-buat. 

Bagaimana pun, ketika sudah jelas yang diderita adalah psikosomatik (dan diterapi sebagai psikosomatik), keluhan akan berkurang atau menghilang seiring dengan lenyapnya stres atau kecemasan yang dialami. 

Salah diagnosis?

Menurut Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, sekitar 16 juta orang di Indonesia mengalami gangguan mental emosional seperti cemas, depresi, dan psikosomatik. Sayangnya di Indonesia, seringkali gangguan psikosomatik dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat magis. Ini wajar karena penyebab medisnya memang tidak ditemukan dan tidak jarang sakitnya berpindah-pindah atau berganti-ganti. Sulit untuk bisa menjelaskan kondisi tersebut tanpa memperhitungkan pengetahuan tentang psikosomatik.

Ilustrasi stres./ Pixabay

Bahkan, menurut sebuah riset di Amerika Serikat, kadang tenaga medis pun tidak mempertimbangkan kemungkinan psikosomatik dan salah mendiagnosis pasien dengan masalah ini. 

Solusinya, upayakan untuk mendapat beberapa opini dari dokter yang berbeda-beda. Bila tak juga ditemukan penyebab medis dari keluhan Anda, serta sudah sampai mengganggu kehidupan sehari-hari, mulailah berkonsultasi kepada tenaga kesehatan mental seperti psikiater atau psikolog. Sampaikan Anda telah diperiksa oleh banyak dokter dan mereka tak menemukan penyebab penyakit Anda. 

Yang paling penting, ketika menyangkut penyakit, jangan lakukan diagnosis sendiri. Pergilah ke tenaga kesehatan dan kesehatan mental yang tepat dan bekali diri dengan pengetahuan tentang kondisi Anda agar bisa mengajukan pertanyaan yang tepat kepada dokter atau psikolog yang Anda kunjungi.

Mirip seperti yang dilakukan Rimma saat memutuskan pergi ke psikolog untuk berdiskusi penyakit psikomatiknya. Ia memang belum sembuh betul. Kadang saat sedang banyak beban pikiran, penyakit itu spontan muncul. Namun, tak seintens dulu.

“Sekarang sudah bisa belajar menyembuhkan diri sendiri. Kuncinya, saya banyak sugesti diri dan menarik napas panjang sampai sepuluh kali hitungan. Ternyata itu lumayan membantu,” ujarnya.


Berita Terkait