sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id
Denny JA

Joe Biden di ambang kemenangan, tetapi Trump-ism tetap berjaya

Denny JA Sabtu, 07 Nov 2020 11:20 WIB
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 557.877
Dirawat 77.969
Meninggal 17.355
Sembuh 462.553

Ketika esai ini ditulis, belum ada kepastian yang sah tentang siapa yang terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat 2020-2024.

Tetapi dua kenyataan ini semakin kuat. Pertama, data semakin mengarah. Peluang Joe Biden  menjadi Presiden Amerika Serikat berikutnya semakin besar. Kedua, walaupun dikalahkan, tetapi Donald Trump dan Trump-ism tetap berjaya.

Trump-ism adalah kultur politik yang tumbuh di Amerika Serikat karena pengaruh tata nilai dan pesona Donad Trump.

Esai ini akan mengeksplorasi fenomena itu.

Saya sering ditanya. Mengapa tak ada quick count dalam pilpres Amerika Serikat? Bukankah melalui quick count hasil Pilpres AS dapat diketahui lebih cepat? Di hari itu juga. Tanggal 4 Nov 2020. 

Kini sudah 7 Nov 2020. Sudah 3 hari sejak pencoblosan. Masih belum ada kepastian statistik siapa yang akan terpilih sebagai Presiden AS 2020-2024.

Dalam Pilpres 2019 di Indonesia, Mahkamah Konstitusi memutuskan quick count pilpres dapat diumumkan paling cepat jam 15.00 di hari pemungutan suara.

Video di Youtube menunjukkan. Di era Pilpres Indonesia, 17 April 2019. Satu detik melewati jam 15.00, saya mewakili LSI Denny JA, tercatat paling cepat secara resmi mengumumkan kemenangan Jokowi.

Sponsored

Sekitar 5 minggu kemudian, (21 Mei 2019), KPU mengumumkan hasil resmi pemenang pilpres. Hasil quick count LSI Denny JA itu dicatat banyak media sangat akurat, paling akurat di antara lembaga survei yang ada. Ia hanya selisih 0,2%  dibandingkan hasil real KPU, 5 minggu kemudian.

Tiga alasan mengapa quick count tidak digunakan dalam pilpres Amerika Serikat.

Pertama, pemenang pilpres di Amerika Serikat tidak ditentukan oleh pemenang popular vote di tingkat nasional. Walau tetap menggunakan sistem one man, one vote, tetapi suara pemilih itu diterjemahkan menjadi “kursi” melalui electoral college.

Acap terjadi, seorang presiden terpilih di Amerika Serikat, walau ia kalah dalam populer vote, tetapi menang dalam electoral college

Donald Trump di 2016 kalah dengan Hilary Clinton dalam popular vote. Tetapi Donald Trump yang ditetapkan sebagai Presiden AS, 2016-2020, karena memenangkan electoral college.

Apa itu electoral college? Ia adalah sekumpulan elektor yang ditunjukan empat tahun sekali untuk memilih Presiden Amerika Serikat.

Konstitusi Amerika Serikat menentukan untuk membentuk elektor di semua negara bagian. Sejak tahun 1964, total jumlah elektoral itu 538. Capres yang memperoleh 270 elektor, terpilih sebagai Presiden AS.

Prosentase elektor di setiap negara bagian berbeda-beda sesuai dengan jumlah populasi atau anggota perwakilan di negara bagian itu.

Sebagai contoh, negara bagian California memiliki jumlah elektoral terbesar, 55 kursi. Negara bagian Wyoming hanya memiliki 3 kursi elektor saja.

Sistem yang berlaku adalah the winner takes all, untuk semua negara bagian. Terkecuali Maine dan Nebraska.

Katakanlah jika di California, satu calon hanya unggul 0,2% dalam popular vote di sana, ia akan ambil semua 55 kursi. Jika ia unggul 30% dalam popular vote, ia juga akan ambil 55 kursi. 

Itu sebabnya pemenang popular vote selalu tak sama dengan pemenang electoral collegeQuick count acap kali menghitung pemenang popular vote, bukan pemenang electoral college.

Kedua, acapkali dalam pilpres Amerika Serikat, persaingan di beberapa negara bagian sangatlah ketat. Selisih popular vote di negara bagian itu kadang di bawah 0,2%.

Contoh nyata sekarang di negara bagian Pennsylvania. Pada 7 November 2020, 3 hari setelah pencoblosan, Joe Biden mendapatkan 49,6%, sementara Donald Trump 49,3%. Masih ada 2% suara yang belum terhitung.

Ini yang sering disebut too close too call. Margin of victory, begitu kecilnya. Itu hanya selisih 0,3% saja antara Biden dan Trump.

Sementara quick count karena menggunakan sampel, pasti ada margin of error. Umumnya margin or error quick count itu plus minus 0,5%.

Jelaslah quick count tak bisa digunakan dalam persaingan sangat ketat, karena memiliki margin of error yang lebih besar dibandingkan margin of victory.

Ketiga, Amerika Serikat juga menggunakan mailing ballot (postal poting/mail in voting). Seorang pemilih yang terdaftar tak harus datang ke TPS untuk memilih. Ia dapat memilih melalui surat yang ia kirim lewat kantor pos yang ditunjuk.

Dengan sendirinya, tak semua mailing ballot ini bisa dihitung di hari pemilihan. Mailing ballot itu dapat datang beberapa saat setelah hari pemilihan. Di era pandemik, semakin banyak pemiliih yang menggunakan mailing ballot.

Tiga alasan di atas yang membuat quick count tak digunakan dalam pilpres Amerika Serikat.

Berita Lainnya