sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kehidupan pers berubah karena revolusi teknologi informasi

Teknologi sudah menjadi variabel primer dalam kehidupan kita.

Arpan Rachman
Arpan Rachman Selasa, 22 Mar 2022 20:25 WIB
Kehidupan pers berubah karena revolusi teknologi informasi

Bagaimana menjadi seorang profesional dengan memanfaatkan teknologi? Tidak ada yang bisa menolak kenyataan bahwa teknologi komunikasi dan informasi saat ini sudah mendominasi kehidupan. Teknologi komunikasi dan informasi sudah menjadi suatu tools (alat bantu; peranti), yaitu kebutuhan primer di masyarakat.

Teknologi sudah masuk dalam seluruh bidang kehidupan seperti rumah tangga, otomotif, pendidikan, pemerintahan, bisnis, dan interaksi sosial. Ini sudah menjadi satu variabel yang tidak bisa dipisahkan dari kemajuan dan perubahan sosial dalam bidang apapun. Demikian pandangan Anshar Akil, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, dalam program acara 'Perubahan Teknologi terhadap Jurnalistik'.

"Coba lihat di rumah tangga kita sendiri? Semua alat sudah dipenetrasi teknologi. Televisi sekarang sudah berbasis Android. Dulu, masih zamannya televisi hitam-putih, TV tabung, muncul televisi berwarna, lalu smart-TV. Kini, TV yang memiliki program Android, jadi kita bisa mengakses internet, nonton Youtube, bisa juga nonton televisi, dan mengakses berita," katanya, seperti ditayangkan kanal Youtube, Selasa (15/3).

Akil menambahkan, begitu pula AC (Air Conditioner), dulu hanya alat elektronik, tapi sekarang diberi chip dan dapat diprogram dari jarak jauh. Mesin cuci begitu juga, mulai dari mengisi air, mengeceknya sampai berapa lama, membilas, itu bisa semua. Teknologi berbasis komputer telah memasuki semua segi kehidupan.

Katanya, dalam bisnis, untuk melakukan transaksi, sekarang cukup memakai aplikasi, seperti halnya online shop atau marketplace. Orang tinggal duduk, membuka aplikasi, bisa berbelanja barang-barang apa saja. Akhirnya mal-mal jadi sepi pengunjung karena pengunjung harus repot dulu mencari-cari barang ke sana kemari. Ini kemudahan berkat kemajuan teknologi.

Mencari berita juga begitu, katanya. Kita bisa cari di google, melalui media sosial, di Youtube, semua bisa. Teknologi sudah menjadi variabel primer dalam kehidupan kita. "Dulu, sewaktu Sekolah Dasar, saya belajar bahwa kebutuhan primer itu ada tiga: sandang, pangan, papan. Sandang itu pakaian, pangan itu makanan, papan itu rumah tempat tinggal. Saya melihat sekarang ini kebutuhan primer sudah jadi empat, ditambah teknologi komunikasi.

"Kita bisa tidak makan, tapi kalau kita tidak punya kuota internet atau pulsa, tidak punya ponsel, rasanya kita adalah orang yang paling menderita. Menjadi orang yang paling tertinggal. Jadi terpaksa membeli ponsel. Biar tidak makan, yang penting kuota internet terisi dulu," cetusnya.

Menurut Akil, semua sudah berubah. Revolusi teknologi komunikasi dan informasi, seperti revolusi industri, menyebabkan terjadinya revolusi sosial. Jadi revolusi teknologi komunikasi dan informasi melahirkan revolusi industri 4.0, kemudian menghasilkan revolusi perubahan sosial 5.0. Perubahan ini harus dipahami, banyak sekali didorong kemajuan teknologi.

Sponsored

"Jurnalistik mendapat paling banyak porsi perubahan dalam kehidupan kita sekarang karena adanya perubahan teknologi. Semua orang sudah menjadi wartawan. Lihat saja di media sosial, semua orang sudah menjadi pewarta. Apa saja kejadian di lingkungannya bisa dilaporkan. Media online juga seperti jamur di musim hujan sejak di awal Reformasi, sewaktu dibuka keran kebebasan membuat media tanpa surat izin," sambungnya.

Dijelaskan, dulu untuk membuat media harus ada SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) dan itu sulit didapatkan orang. Ketika Reformasi, SIUPP dihilangkan, akhirnya orang berlomba-lomba membuat media cetak dan tabloid, itu banyak sekali.

Tapi lama-lama media cetak juga hilang, banyak sekali. Mati satu-satu. Tidak mampu menanggung biaya cetak. Biaya cetak tabloid mingguan dalam seminggu bisa Rp3-5 juta. Tidak ada pelanggan atau iklan, akhirnya runtuh satu per satu. Yang masih bertahan justru media yang sudah eksisting, berupa media-media besar.

Kemudian terjadi perubahan lagi, munculnya media elektronik. Yaitu, media online. Di sini orang ramai-ramai lagi membikin media jenis ini. Banyak juga yang jatuh. Karena untuk memutakhirkan berita-berita juga memerlukan kemampuan, pengaturan waktu, dan lainnya. Banyak blog-blog yang sudah tidak eksisting. Begitu pula dengan instansi sudah mulai membuat website atau media online.

Lalu, muncul Youtube, di mana orang bisa membuat channel. Ini bertambah ramai lagi. Dulu, orang membuat televisi atau radio susah sekali. Sekarang, untuk mendirikan televisi atau radio lebih mudah. Studio podcast atau bikin channel itu gampang.

Orang hanya perlu membuka akun google, kemudian bikin akun di Youtube, dan kita sudah punya stasiun TV. Ada yang amatiran, ikut-ikutan, setengah profesional, dan profesional. Akhirnya yang betul-betul menggarap channel itu menjadi perusahaan besar yang bisa menghasilkan miliaran rupiah per bulan. Didukung tim, bagian produksi, editing, pemasaran, dan pemain, seperti stasiun TV betulan.

"Media sudah banyak, teknologi mempersiapkannya, apakah itu media online, radio, atau televisi, semuanya ada. Sekarang, apa masalahnya?" tanya Direktur dan master trainer Anshar Akil Institute.

Berita Lainnya
×
tekid