sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mantan anggota Dewan Pers Myanmar: Melakukan protes adalah jalan keluar bagi kami

Myint kini masih tetap aktif sebagai instruktur kepala di Myanmar Journalism Institute.

Arpan Rachman
Arpan Rachman Rabu, 01 Sep 2021 21:07 WIB
Mantan anggota Dewan Pers Myanmar: Melakukan protes adalah jalan keluar bagi kami

Kudeta di Myanmar dimulai pada pagi hari tanggal 1 Februari 2021, ketika anggota partai berkuasa yang dipilih secara demokratis, Liga Nasional untuk Demokrasi, digulingkan oleh Tatmadaw — militer Myanmar — yang kemudian memberikan kekuasaan dalam stratokrasi atau bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh kepala militer.

Sejak kudeta 1 Februari, setidaknya 1.031 orang telah dibunuh oleh militer Myanmar menurut liputan Wa Lone, Poppy McPherson, Aditi Bhandari, dan Shoon Naing yang dipublikasikan Reuters, Jumat (27/8).

Alinea.id mewawancarai Myint Kyaw secara virtual pada Senin (30/8). Dari mantan anggota Dewan Pers Myanmar ini bisa disimak opini tentang situasi terkini di negeri yang dulu bernama Burma. Myint kini masih tetap aktif sebagai instruktur kepala di Myanmar Journalism Institute.

Dari salah satu jawabannya, dia bahkan masih ingat persis Pemberontakan 8888 yang dimulai oleh mahasiswa di Yangon (Rangoon) pada tanggal 8 Agustus 1988. Ribuan kematian sejak itu telah dikaitkan dengan militer selama pemberontakan ini, sementara pihak berwenang di Burma menyebutkan angka sekitar 350 orang tewas. Selama krisis tersebut, Aung San Suu Kyi muncul sebagai ikon nasional.

Pandangan Myint Kyaw terhadap perkembangan keadaan sejak kepemimpinan Aung San Suu Kyi dan kawan-kawan yang pro-demokrasi ditumbangkan militer di awal Februari lalu, sudah direkam melalui saluran yang aman, berikut ini:

Alinea.id: Bagaimana perasaan Anda tentang kudeta militer?

Myint Kyaw: Kudeta militer adalah mimpi buruk bagi kami, khususnya bagi saya yang berusia 24 tahun ketika kudeta militer 1988 terjadi. Kami benar-benar terbelakang dari transisi demokrasi.

Alinea.id: Apakah Anda melihat cara lain untuk mengubah sesuatu selain demonstrasi?

Sponsored

Myint Kyaw: Saya memikirkan dialog antara pemerintahan rakyat dan pihak militer sejak sebelum kudeta, tetapi dialog itu gagal dan kudeta terjadi, meskipun saya masih memikirkan kemungkinan dialog antara dua organisasi politik besar ini. Tapi itu tidak mungkin terjadi.

Alinea.id: Apa yang Anda lakukan dalam kondisi Anda saat ini?

Myint Kyaw: Saya bekerja sebagai pembela kebebasan pers dan koordinator untuk keselamatan jurnalis. Saya melakukan banyak koordinasi untuk dua urusan ini.

Melakukan protes adalah jalan keluar bagi kami, walaupun kami juga tidak menginginkan cara-cara penumpasan brutal yang terjadi di masa lalu, 1988.

Alinea.id: Jika keadaan menjadi lebih buruk, apakah Anda akan bertahan?

Myint Kyaw: Saya mungkin bertahan tetapi tidak yakin apakah mereka akan melenyapkan para pembela pers dan jurnalis yang bebas. Saya mengundurkan diri dari dewan pers pada 17 Februari 2021.

Alinea.id: Siapa yang akan Anda minta bantuan?

Myint Kyaw: Saya hanya berharap untuk tekanan internasional dan seruan lokal agar jurnalis dibebaskan dari penjara, saat ini 11 jurnalis ditahan setelah kudeta.

Alinea.id: Terima kasih, Myint. Semoga Anda beserta keluarga tetap terlindung dari kejadian yang buruk.

Jawaban terakhir Myint Kyaw senada tuntutan Amnesty International pada 27 Mei 2021, yang meminta otoritas militer Myanmar harus segera mencabut tuduhan terhadap wartawan, termasuk mereka yang berada dalam penahanan pra-ajudikasi, dengan jaminan, atau mereka yang dikenai surat perintah penahanan semata-mata karena melaksanakan pekerjaan mereka dan melaksanakan hak asasi mereka secara damai.

“Wartawan berada di garis depan perjuangan untuk mengungkap kebenaran tentang apa yang terjadi di Myanmar,” kata Emerlynne Gil, Wakil Direktur Regional untuk Penelitian Amnesty International.

“Kekerasan, intimidasi, dan pelecehan yang dilakukan oleh otoritas militer kepada mereka hanya menggambarkan betapa sulitnya mengungkap kebenaran. Jurnalis individu dapat diancam, ditangkap, atau bahkan mengalami nasib yang lebih buruk, tetapi media bebas Myanmar secara keseluruhan tidak akan pernah bisa dibungkam.” 

Berita Lainnya