logo alinea.id logo alinea.id

Khofifah: Penusukan Wiranto tak bisa ditoleransi

"Apapun alasannya, aksi kekerasan seperti ini seharusnya tidak terjadi dan tidak boleh ditolerir."

Adi Suprayitno
Adi Suprayitno Jumat, 11 Okt 2019 10:28 WIB
Khofifah: Penusukan Wiranto tak bisa ditoleransi

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, mengaku prihatin dengan insiden penusukan terhadap Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto di Pandeglang, Banten.

Khofifah mengatakan, keprihatinannya bukan karena Wiranto seorang pejabat negara. Bagi Khofifah, semua warga negara berhak mendapat jaminan keamanan, karena semua warga bangsa Indonesia memiliki kedudukan yang sama di mata hukum.

"Sangat disayangkan. Apapun alasannya, aksi kekerasan seperti ini seharusnya tidak terjadi dan tidak boleh ditolerir," kata Khofifah usai mengikuti acara Tahlil Kubro di Madiun, Kamis (10/10) malam.

Mantan Menteri Sosial ini mengatakan, jika seluruh warga mengedepankan sikap tabayyun atas seluruh persoalan dan saling menghormati, maka aksi tersebut tidak akan terjadi. 

Khofifah menyebut kejadian tersebut bisa saja terulang di tempat lain. Karena itu, dia mendesak Polri untuk mengusut tuntas dalang di balik aksi penyerangan  tersebut. Juga, agar diketahui motif yang melatarbelakangi pelaku melakukan penusukan terhadap mantan Panglima TNI tersebut.

Khofifah mengatakan, dirinya berencana menjenguk Wiranto di Jakarta, jika kondisinya telah memungkinkan. "Insyallah kalau kondisi Pak Wiranto sudah makin membaik dan memungkinkan untuk dijenguk, kami ingin sowan," ucapnya.

Wakil Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin mengatakan, perlu pengetatan pengamanan untuk pejabat tinggi negara. Hal ini untuk menjamin keselamatan pejabat dari serangan serupa.

"Negara harus pastikan semua rakyat harus aman, apalagi pejabat tinggi negara. Saya rasa untuk waktu tertentu perlu pengetatan," kata Sultan di Jakarta, Jumat (11/10).

Sponsored

Penyerangan terhadap Wiranto terjadi usai dia meresmikan gedung kuliah di Universitas Mathla'ul Anwar di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10). Wiranto menderita dua luka tusuk pada bagian perut.

Pelakunya adalah pasangan suami istri yang diduga terpapar paham radikal ISIS. Menurut polisi, keduanya merupakan bagian dari jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD).