logo alinea.id logo alinea.id

"Maafkan Mama ya nak"

Rosminah, ibu Akbar Alamsyah, menangis histeris di pemakaman anaknya.

Gema Trisna Yudha
Gema Trisna Yudha Jumat, 11 Okt 2019 10:56 WIB

Proses pemakaman Akbar Alamsyah, 19 tahun, di Tempat Pemakaman Umum Wakaf belakang Seskoal, Kelurahan Cipulir, Kebayoran Lama, diiringi isak tangis ibu dan kakak almarhum. Akbar menjadi korban dalam aksi demonstrasi pelajar di DPR RI pada 25 September 2019.

Jenazah Akbar dimasukkan ke dalam liang lahat tepat pukul 08.35 WIB. Selain pihak keluarga, pemakaman disaksikan warga dan teman-teman sekolah Akbar.

Ibu korban Rosminah, ayahnya Yanuar, dan kakak kandung Akbar, Fitri, tak kuasa menahan tangis ketika jenazah dimasukan ke liang lahat. Mereka menahan diri untuk tak menangis, meski air mata tetap berlinang.

Setelah Imam Masjid Roudhatul Jannah memimpin pembacaan doa, pihak keluarga dipersilakan untuk berdoa di makam Akbar. Rosminah mendekat ke papan nisan.

Setelah berdoa, dia mencium papan nisan bertuliskan nama anaknya, "Akbar Alam R bin Yanuar". Saat itu Rosminah tak lagi kuasa menahan tangisnya. "Maafkan Mama ya Nak," kata Rosminah sambil mencium nisan.

Yanuar memeluk Rosminah dan mencoba menenangkan istrinya. "Kamu kuat, harus ikhlas," katanya.

Namun Rosminah kembali mendekap pusara anaknya. Ia meminta maaf atas kesalahannya, dan mendoakan jenazah anaknya.

"Maafkan Mama ya Nak. Alam baik-baik di sana. Maafkan Mama ya, Mama suka marahin Alam," kata Rosminah sambil mencium tanah makam anaknya.

Sponsored

Setelah kembali ke rumahnya, isak tangis Rosminah masih terdengar hingga ke seberang jalan. Tak lama kemudian, pintu rumah ditutup. Tak ada bendera kuning terpasang di rumah itu.

Sebelum dikebumikan, jenazah Akbar disalatkan di Masjid Roudhatul Jannah, tak jauh dari lokasi TPU. Jenazah sempat disemayamkan di rumah pamannya bernama Matle di Jalan Masjid RT 11 RW 05, Kelurahan Cipulir, Jakarta Selatan.

Akbar menjadi korban saat mengikuti aksi demonstrasi menentang RUU KUHP dan UU KPK di DPR RI pada 25 September 2019 lalu. Ia sempat tak diketahui keberadaannya hingga ditemukan dalam kondisi kritis pada 28 September 2019.

Akbar ditemukan dengan tempurung kepala pecah. Pihak kepolisian menyatakan luka tersebut disebabkan Akbar terjatuh saat melompati pagar menghindari kerusuhan. Akbar sempat berada dalam kondisi koma selama beberapa hari sebelum dinyatakan meninggal dunia. (Ant)