logo alinea.id logo alinea.id

Massa aksi kembali datang ke gedung KPK

Dari pantauan Alinea.id, jumlah massa sekitar 90 orang.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Jumat, 13 Sep 2019 17:33 WIB
Massa aksi kembali datang ke gedung KPK

Aliansi massa unjuk rasa pendukung keputusan Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (Pansel Capim KPK) kembali berunjuk rasa di depan gedung Merah Putih KPK.

Sebelumnya, mereka telah membubarkan diri lantaran terlibat bentrok dengan aparat kepolisian dan pegawai KPK.

Dari pantauan Alinea.id, jumlah massa sekitar 90 orang diakomodir oleh dua mobil komando. Sejumlah aparat kepolisian pun turut berjejer untuk mengamankan aksi unjuk rasa pendukung keputusan DPR RI itu.

Dari mobil komando, sang orator masih meminta untuk melepaskan kain hitam yang menutupi logo KPK. Mereka menganggap kain hitam itu bermakna Islam radikal yang disangkut pautkan dengan adanya keberadaan ISIS.

"Kami meminta KPK untuk melepas kain hitam yang menutupi logo KPK. Itu menandakan radikalisme di tubuh KPK. Itu menandakan ISIS," seru sang orator, di atas mobil komando, di gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Jumat (13/9).

Tak hanya itu, mereka juga menuntut agar masyarakat Indonesia dapat menerima hasil keputusan uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test di DPR RI.

"DPR telah mengesahkan lima nama yang terdiri dari bebagai suku, budaya. Kita tidak peduli dari mana asalnya, dari mana lembaganya, yang terpenting dia warga negara Indonesia. Untuk itu, kita mendukung sepenuhnya RUU KPK. KPK harus diawasi," seru orator.

Hingga saat ini, aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh pendukung keputusan Pansel Capim KPK dan DPR RI berjalan kondusif.

Sponsored

Diberitakan sebelumnya, unjuk rasa oleh aliansi pendukung keputusan DPR RI dan RUU KPK berujung ricuh. Para massa bertindak anarkis lantaran dicegah oleh aparat kepolisian dan pegawai KPK ketika hendak merangsek masuk ke gedung Merah Putih KPK.

Imbasnya, para demonstran melempari batu, hingga bambu ke gedung Merah Putih KPK. Namun, aksi tersebut tidak mendapat tindakan pencegahan dari aparat kepolisian. Bahkan, awak media pun menjadi sasaran kebrutalan para pengunjuk rasa.