sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

MTI sebut Pemprov DKI masih punya PR pada bidang transportasi

Di antaranya, beberapa terminal penumpang masih perlu dibenahi, seperti Terminal Tanjung Priok dan Terminal Kampung Rambutan.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Rabu, 11 Nov 2020 08:02 WIB
 MTI sebut Pemprov DKI masih punya PR pada bidang transportasi

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat Djoko Setijowarno mengaku, masih ada beberapa pekerjaan rumah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang terkait transportasi. Pertama, jalur sepeda yang kini disediakan masih perlu dipastikan dari segi keamanan dan kenyamanannya. Kedua, pengaturan ojek daring hingga saat ini masih berpolemik. Ketiga, beberapa terminal penumpang masih perlu dibenahi, seperti Terminal Tanjung Priok dan Terminal Kampung Rambutan.

Selain itu, dia menyesalkan kebijakan larangan sepeda motor di Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin masih dicabut. Padahal, kebijakan tersebut disebutnya baik sekali, karena ojek online juga masih semrawut. Ia juga menyoroti trotoar yang sudah rapi dan bersih dari PKL (pedagang kaki lima) di Kawasan Stasiun Tanah Abang, kemudian diizinkan berjualan lagi. Kendati sudah dibuatkan lahan berdagang pengganti, tetapi kesemrawutan di trotoar karena PKL tersebut sulit ditertibkan seperti sedia kala.

”Jadi jangan sekali-kali masukkan transportasi menjadi janji politik yang destruktif (merusak). Karena akan ada yang dikorbankan di lapangan,” ujar Djoko dalam keterangan tertulis, Rabu (11/11).

Di sisi lain, DKI Jakarta juga memiliki pekerjaan rumah untuk memastikan integrasi antarmoda, serta penertiban trotoar dari pangkalan ojek, parkir mobil dan PKL. Integrasi sudah berjalan dalam hal integrasi fisik dan integrasi jadwal perjalanan. Sementara itu, integrasi pembayaran sedang dalam proses berlangsung. Jika kelak integrasi pembayaran dapat terwujud, cukup satu tiket (one ticket) untuk semua moda transportasi umum. Pengguna transportasi umum dapat berlangganan tiket transportasi umum untuk harian, mingguan, atau bulanan.

Kendati begitu, Djoko mengakui keberhasilan DKI Jakarta menata transportasi dapat dijadikan contoh para kepala daerah di kota-kota lain di Indonesia. Apalagi pada 2020, Ditjenhubdat Kementerian Perhubungan telah mulai membantu penataan transportasi umum perkotaan di daerah dengan skema pendanaan pembelian layanan (buy the service) di lima kota. Yaitu, Medan, Palembang, Yogyakarta, Surakarta, dan Denpasar.

“Kota-kota tersebut, kelak dapat dipersiapkan untuk mengikuti ajang Sustainable Transport Award di tahun mendatang. Setidaknya ikut untuk mengukur seberapa jauh pencapaian program yang sudah dikerjakan dalam menuju transportasi berkelanjutan,”ucapnya.

Secara objektif, Jakarta dalam lima tahun terakhir memang mengalami perbaikan yang signifikan untuk sektor transportasinya, memiliki bus Trans Jakarta, LRT dan MRT yang memberikan pelayanan bagus, dan perbaikan pelayanan Transjakarta.

Untuk mengikuti jejak kesuksesan Jakarta, perlu komitmen bersama pemerintah pusat (Pempus) dan pemerintah daerah (Pemda). Selain intervensi Pempus, komitmen kepala daerah juga harus kuat. Ironisnya, komitmen dan anggaran Pemda di banyak daerah kebanyakan masih minim. Kesuksesan penataan transportasi massal bukan hanya karena komitmen Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Namun, gubernur sebelumnya juga memiliki andil masing-masing.

Sponsored
Berita Lainnya