logo alinea.id logo alinea.id

Permintaan maaf Facebook ditanggapi dingin oleh DPR

Kebocoran data tersebut disebabkan adanya aplikasi bernama "thisisyourdigitallife" yang dikembangkan akademisi di Cambridge University

Bima Yairiba
Bima Yairiba Selasa, 17 Apr 2018 14:53 WIB
Permintaan maaf Facebook  ditanggapi dingin oleh DPR

Facebook untuk Indonesia menyampaikan permohonan maaf. Terkait kebocoran data satu juta pengguna salah satu penyelenggara sistem elektronik (PSE) di Indonesia.

Kepala Kebijakan Publik Facebook untuk Indonesia Ruben Hattari mengatakan bocornya data pengguna Facebook di Indonesia, merupakan bentuk pelanggaran kepercayaan dan kegagalan pihaknya melindungi data pengguna. "Kami mohon maaf atas kejadian tersebut," kata Ruben seperti dilansir Antara dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi I DPR, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (17/4).

Kebocoran data tersebut disebabkan adanya sebuah aplikasi bernama "thisisyourdigitallife" yang dikembangkan akademisi di Cambridge University. Yaitu DR Alexander Kogan dan menggunakan fitur Facebook Login yang tersedia secara umum.

Facebook Login memungkinkan pengembang aplikasi pihak ketiga meminta persetujuan dari pengguna aplikasi Facebook. Tujuannya, agar aplikasi mereka bisa mengakses kategori data tertentu yang dibagikan pengguna tersebut dengan teman Facebook mereka.

"Facebook dengan tegas melarang penggunaan dan pengiriman data yang dikumpulkan menggunakan cara ini untuk tujuan lain," ujarnya.

Setelah Dr Kogan mendapatkan data pengguna Facebook, data tersebut diberikan ke Cambridge Analytica. Pihaknya tidak memberikan izin atau menyetujui pemindahan data tersebut. Bahkan menganggap telah melakukan pelanggaran kebijakan platform Facebook.

Itulah sebabnya, berdasarkan penelitian Facebook dari laporan media, pada Desember 2015 pihaknya menangguhkan akses aplikasi tersebut yang menggunakan Facebook Login.

"Kami juga menuntut Dr Kogan serta perusahaannya saat itu Global Science Research Limited dan entitas lain yang sudah dikonfirmasi. Mereka telah menyerahkan data yang terkumpul melalui aplikasi ke entitas tersebut untuk memberikan penjelasan dan segera menghapus semua data tersebut," katanya.

Sponsored

Agar kedepannya kasus tersebut tidak terjadi lagi, Facebook sedang menginvestigasi semua aplikasi yang pernah mendapatkan akses atas informasi dalam jumlah besar. Jika ada yang menyalahgunakan data pengguna, Facebook akan memblokirnya  dan memberitahu semua orang yang terkena dampak.

Menanggapi itu,  Anggota Komisi I DPR Evita Nursanty meminta Facebook segera melakukan audit investigasi terkait kebocoran data satu juta pengguna Facebook di Indonesia. Langkah itu dilakukan sebagai upaya memastikan data privasi masyarakat tidak disalahgunakan pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Apalagi pelaksanaan Pilkada dilakukan tahun ini. Demikian juga dengan Pemilu Presiden yang digelar tahun depan. Data pengguna tidak boleh digunakan pihak ketiga.

Jawaban Facebook dalam RDPU juga dianggap tidak memuaskan. Evita merasa tidak yakin Facebook mampu mengamankan data pribadi pelanggannya.

Hampir senada dengan itu, Anggota Komisi I DPR Sukamta mengatakan paparan Facebook terkesan santai. Seolah-olah merupakan makhluk suci yang tidak bersalah dalam kasus kebocoran data tersebut.

Klaim Facebook tersebut tidak didasari bukti bahwa Cambridge Analitic yang bersalah dan melanggar aturan. Facebook juga tidak menyebutkan apa isi perjanjiannya dengan pihak ketiga. Oleh karena itu, Sukamta mengatakan, Facebook harus menghadirkan bukti perjanjian kerja sama dengan pihak ketiga terkait penggunaan data pengguna aplikasi tersebut.