logo alinea.id logo alinea.id

Soal pembakaran bendera di Garut, MUI dan NU belum satu suara

MUI menyakini bendera yang dibakar oknum Banser merupakan bendera tauhid. NU sebut Banser korban provokasi

Robi Ardianto Ayu mumpuni
Robi Ardianto | Ayu mumpuni Rabu, 24 Okt 2018 17:57 WIB
Soal pembakaran bendera di Garut, MUI dan NU belum satu suara

Peristiwa pembakaran bendera oleh oknum Banser masih mendapatkan tanggapan beragam dari organisasi besar Islam. 

Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyakini bendera yang dibakar oknum Banser merupakan bendera tauhid. Sebab, di dalamnya tidak terdapat bacaan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Gerakan Pemuda Ansor mengatakan bendera yang dibakar tersebut merupakan bendera HTI. Sementara Pengurus Besar Nahdathul Ulama (PBNU) menilai Banser sebagai korban provokasi dalam aksi pembakaran bendera bertuliskan lafaz tauhid.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat Didin Hafidhuddin mengatakan, sikapnya sama dengan MUI. Dia juga tidak melihat adanya identitas HTI didalam bendera berlafazkan tauhid tersebut.  "Karena yang terlihat di situ tidak ada simbol HTI, hanya kalimat tauhid," kata Didin di Gedung MUI Pusat, di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (24/10). 

Sebaliknya, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas, mengatakan bendera yang dibakar tersebut merupakan bendera HTI. Itulah sebabnya dia menolak bendera tersebut disebut sebagai bendera tauhid. 

Keyakinan Yaqut atas bendera tersebut menurutnya bisa dilacak melalui jejak digital, dalam banyak kegiatan HTI. "Misalnya pada 2013 di GBK, ribuan anggota mereka (HTI) membuat acara di sana dan mereka ikut mengibarkan bendera tersebut. Bendera yang kami kenal dengan bendera HTI," katanya. 

Alasan lainnya yang dikemukakan oleh Yaqut adalah berdasarkan hasil persidangan pembubaran HTI dari pengadilan. Saat itu, HTI mengakui bendera seperti itu milik mereka. 

Dia menganalogikan bendera Merah Putih yang juga tidak tertera nama Indonesia di dalamnya. Masyarakat tetap mengenalinya sebagai bendera Indonesia.

"Ada pula bendera bergambar Palu dan Arit. Jika itu beredar di jalan,  masyarakat akan berpandangan itu adalah bendera palu arit atau bendera PKI," terang dia. 

Sponsored

Sementara Pengurus Besar Nahdathul Ulama (PBNU) meyakini Banser sebagai korban provokasi dalam aksi pembakaran bendera bertuliskan lafaz tauhid di Garut, Senin (22/10) lalu. Tim pencari fakta yang dibentuk oleh PBNU menemukan adanya indikasi upaya sistematis untuk melakukan infiltrasi dan provokasi.

“Anggota Banser menjadi korban dari provokasi dan infiltrasi dengan melakukan pembakaran bendera HTI di luar SOP yang sudah ditentukan,” kata Ketua PBNU, Said Aqil Siraj di Gedung PBNU, Rabu (24/10).

Said Aqil menuturkan tim pencari fakta juga menemukan pengibaran dan pemasangan bendera HTI di tempat Apel Hari Santri Nasional 2018 terjadi di Sumedang, Kuningan, Ciamis, Banjar, Bandung, Tasikmalaya dan sejumlah daerah di Jawa Barat. Hal itu juga dapat mengindikasikan adanya makar yang perlu ditindak tegas oleh aparat penegak hukum.

Said Aqil menilai aparat keamanan telah kecolongan. Seharusnya aparat keamanan lah yang melakukan pemeriksaan atas bendera yang telah dilarang ada dalam acara tersebut.

“Kami menyayangkan. Yang paling bener dirampas, diberikan ke aparat atau aparat yang merampasnya lebih baik lagi. Banser membantu, itu paling pas,” ucapnya.

Meski demikian ia beranggapan yang dilakukan PP GP Ansor sudah sesuai dengan ketentuan dan mekanisme organisasi. PBNU pun berterima kasih atas apa yang telah dilakukan PP GP Ansor karena dianggap sebagai bentuk bela dan cinta NKRI.

Terkait pro kontra bendera sendiri, PBNU dengan tegas mengatakan bendera yang dibakar oleh anggota Banser itu adalah bendera HTI. Ia beranggapan pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyebutkan bendera itu sebagai bendera tauhid adalah bentuk ketidak telitian.

Sekjen PBNU Helmy Zainal Zaini malah mengatakan pernyataan MUI tersebut justru akan menimbulkan perpecahan di masyarakat. Hal itu dikarenakan pernyataan bendera tauhid lah yang dibakar dapat menimbulkan keresahan.

“Itu adalah pembakaran bendera HTI, adapun Ansor kan sudah melaukakan tindakan organisatoris sesuai dengan derajat kesalahannya. Informasi lain itu salah. Bisa memprovokasi orang bahwa terjadi pelecehan, penghinaan dan seterusnya,” ujarnya.