logo alinea.id logo alinea.id

Politik hoaks tak signifikan gerus elektabilitas

Elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf yang unggul jauh ketimbang Prabowo-Sandi sulit digerus semata oleh hoaks.

Robi Ardianto Kudus Purnomo Wahidin
Robi Ardianto | Kudus Purnomo Wahidin Rabu, 09 Jan 2019 13:58 WIB
Politik hoaks tak signifikan gerus elektabilitas

Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Hasto Kristianto mengapresiasi hasil survei yang baru dirilis Indikator Politik Indonesia. Menurut Hasto, hasil survei itu menunjukkan bahwa politik hoaks tak efektif digunakan di pentas Pilpres 2019.  

"Hal positif dari survei tersebut semakin memerkuat dalil pokok strategi kami bahwa rakyat menghargai pemikiran dan tindakan positif. Rakyat lebih mengapresiasi politik santun dan rakyat berpikir kritis serta jernih, dan tidak terpengaruh hoaks," kata Hasto dalam siaran pers yang diterima Alinea.id di Jakarta, Rabu (9/1).

Berdasarkan hasil survei Indikator yang digelar pada periode 6-16 Desember 2018 dengan melibatkan 1.220 responden, pasangan calon presiden-wakil presiden (capres-cawapres) Jokowi-KH Maruf Amin dipilih 54,9% responden. Sedangkan elektabilitas Prabowo-Sandi hanya 34.8%.

Dalam surveinya, Indikator merekam pengetahuan publik terhadap isu-isu personal yang menyerang kedua kandidat capres. Jokowi misalnya kerap diisukan memiliki orang tua beragama Kristen, beretnis China dan dituding simpatisan PKI. 

Dari hasil survei, sebanyak 80% responden mengaku tidak mengetahui isu Jokowi dikabarkan memiliki orangtua bergama Kristen dan 57% mengatakan tidak percaya. Namun, masih ada sebanyak 20% warga yang tahu dan percaya Jokowi lahir dari orangtua beragama Kristen. 

Tak hanya itu, sekitar 24% juga percaya Jokowi beretnis China. "Mayoritas tidak percaya 58%. Sekitar 24% percaya dan selebihnya tak bisa menilai 18%," jelas Direktur Eksekutif Burhanuddin Muhtadi saat memaparkan hasil survei di kantornya, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (8/1) 

Menurut Hasto, unggulnya pasangan Jokowi-Ma'ruf di papan survei indikator menunjukkan bahwa publik kian tak percaya dengan beragam hoaks yang menyerang personal Jokowi. Ia meyakini, tingginya elektabilitas Jokowi-Ma'ruf justru imbas dari kerja-kerja positif yang dilakukan keduanya selama ini. 
 
"Rakyat juga menilai bahwa Pak Jokowi-KH Maruf Amin yang menjadi korban fitnah. Jadi pertanyaan yang sering saya ajukan ke rakyat, mau memilih yang baik atau yang buruk, mau memilih yang putih atau hitam, mau memilih yang nasionalis agamis sebagai satu kesatuan, menjadi sangat relevan dan telah dijawab oleh rakyat dengan elektoral Pak Jokowi yang jauh di atas Pak Prabowo," jelasnya.

Hasto menegaskan, Jokowi terus berkomitmen untuk hijrah dari politik hoaks menuju wajah politik yang memerjuangkan kebenaran, keadilan, kemanusiaan. "Selamat tinggal politik hoaks dan fitnah, berpolitiklah dengan cara-cara yang mencerahkan," pungkasnya.  

Sponsored

Tak efektif

Pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Kuskridho Ambardi mengatakan, masih banyaknya kelompok masyarakat yang mempercayai hoaks-hoaks yang beredar menunjukkan bahwa demokrasi di Indonesia terjangkiti fenomena post-truth sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat (AS) pada gelaran Pilres AS 2016. 

Dijelaskan Dodi, sapaan akrab Kuskridho, fenomena post-truth terjadi ketika masyarakat justru mempercayai berita-berita bohong bahkan ketika disajikan fakta-fakta yang kredibel. Biasanya, berita-berita bohong tersebut beredar luas di media sosial. 

Pada Pilpres 2016, Donald Trump berhasil mengalahkan Hilary Clinton. Padahal, Hilary kerap diunggulkan di pelbagai survei jelang pilpres.  Rekayasa opini publik oleh Trump dan tim kampanyenya disebut sebagai penyebabnya. Namun, Dodi meyakini hal serupa tidak akan terjadi di Indonesia. Pasalnya, elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf terpaut jauh dari pasangan Prabowo-Sandi. 

"Jadi kita tak berbicara dengan dua kubu yang sedang berperang total, di Amerika itu perang total ada dua partai yang bertarung habis-habisan jadi selisihnya dikit, jadi hoaks itu efektif untuk merebut suara lawan," jelas dia. 

Dodi memprediksi hasil Pilpres 2019 juga akan berbeda dengan hasil Pilpres AS 2016 lantaran Indonesia dan Amerika memiliki tingkat gejolak politik yang berbeda. "Hoaks di sini  efeknya tak sedahsyat di Amerika, dan saya rasa hasilnya pun tak akan sama," pungkasnya.

Intimidasi terhadap PPP dalam Pemilu 1977

Intimidasi terhadap PPP dalam Pemilu 1977

Senin, 25 Mar 2019 21:10 WIB
Kabar hoax yang meresahkan jelang Pemilu 1955

Kabar hoax yang meresahkan jelang Pemilu 1955

Senin, 25 Mar 2019 14:26 WIB
Friend Zone: Humor dan cinta sepasang sahabat

Friend Zone: Humor dan cinta sepasang sahabat

Sabtu, 23 Mar 2019 12:00 WIB