logo alinea.id logo alinea.id

Serangan mental dan psikologis bermunculan jelang Pemilu 2019

Banyak berita-berita bohong atau hoaks yang marak terjadi di lingkungan masyarakat menjelang Pemilu 2019.

Tito Dirhantoro
Tito Dirhantoro Senin, 21 Jan 2019 14:00 WIB
Serangan mental dan psikologis bermunculan jelang Pemilu 2019

Menjelang Pemilu 2019, serangan yang menganggu mental dan psikologis masyarakat kian bermunculan. Itu ditandai dengan adanya berita-berita bohong atau hoaks yang marak terjadi di lingkungan masyarakat. Demikian dikatakan Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu. 

Karena itu, dirinya mengingatkan kepada aparat pemerintah untuk mewaspadai perkembangan situasi dengan saksama menjelang Pemilu 2019. Apabila tidak diwaspadai, imbas dan pengaruhnya bakal berdampak pada stabilitas keamanan nasional.

“Sudah banyak bermunculan serangan-serangan abstrak yang menggangu kondisi mental dan psikologis masyarakat.  Rakyat dijejali dengan berita-berita bohong atau hoaks yang dikemas sedemikian rupa,” kata Ryamizard di Jakarta pada Senin (21/1).

Menurut Ryamizard, aparat pemerintah ini perlu terus mengamati berbagai perkembangan situasi dengan seksama. Karena tahun ini rakyat Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi, ia pun menyoroti timbulnya potensi perpecahan dan tidak rukunnya masyarakat.

“Sangat rugi besar kita kalau seperti itu. Karena modal besar bangsa kita ini adalah persatuan dan kerukunan. Sekali lagi, jangan sampai kita ini terpecah-pecah karena pemilu presiden dan pemilu anggota legislatif yang berbeda,” ujar purnawirawan jenderal bintang empat itu.

Ryamizard pun mempersilakan rakyat untuk memilih pemimpin yang baik. Ia bahkan mengingatkan, kalau perlu masyarakat Islam melakukan istikharah sehingga mendapat pemimpin yang amanah dan mampu bekerja dengan baik demi kepentingan rakyat.

“Silakan bapak dan ibu pilih pemimpin nasional, pilih yang paling baik, pilih yang terbaik. Setelah itu, semua harus rukun kembali. Karena setiap 5 tahun sekali akan ada pesta demokrasi," tuturnya.

Sebagai negara besar, Ryamizard menegaskan, Indonesia dipandang oleh negara-negara lain sebagai contoh karena perbedaannya. Grand Syekh dari Al Azhar dan beberapa Imam besar yang hadir dalam acara Forum Internasional di Lombok beberapa waktu lalu, kata Menhan, mengangumi kerukunan dan ukhuwah masyarakat Indonesia.

Sponsored

“Jadi, sangat keliru sekali kalau kita tidak memanfaatkan ini sebagai sebuah kekuatan, sebuah potensi dalam memajukan negara yang kita cintai ini," kata Ryamizard.

"Jangan sampai kita justru dari luar dikagumi, dari luar dijadikan contoh, tetapi di dalam kita menjadi retak gara-gara urusan pilkada, urusan pilgub, dan pilpres." (Ant)