logo alinea.id logo alinea.id

Budiman Sudjatmiko: Semburan dusta bisa dikalahkan 

Berita bohong alias hoaks yang menjadi salah satu indikasi penggunaan taktik semburan dusta.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Minggu, 16 Jun 2019 23:51 WIB
Budiman Sudjatmiko: Semburan dusta bisa dikalahkan 

Semburan dusta atau firehose of falsehood kerap digunakan sebagai instrumen memenangkan kontestasi elektoral. Di Pipres 2019 tak terkecuali. Dalam pertarungan politik yang kembali mempertemukan Jokowi dan Prabowo itu, berita bohong alias hoaks yang menjadi salah satu indikasi penggunaan taktik semburan dusta marak. 

Namun demikian, menurut Ketua Umum Inovator 4.0 Indonesia, Budiman Sudjatmiko, semburan dusta tak sepenuhnya efektif. Menurut Budiman, taktik yang kerap dikategorikan sebagai modifikasi propaganda Rusia itu bisa dikalahkan. 

"Karena di Indonesia kita bisa mengalahkan semburan dusta dan semburan dusta di Indonesia tidak bisa mencapai kemenangan politik," kata Budiman dalam sebuah diskusi di Microsoft Indonesia, Gedung BEI, Jakarta, Minggu (16/6).

Meskipun pemilu telah usai, Budiman mengatakan, semburan dusta ternyata tidak ikut surut. Kabar bohong bertebaran dengan pola yang terstruktur. "Diulang-ulang, dan mengaduk-aduk emosi serta kepercayaan seseorang," imbuhnya. 

Menurut Budiman, semburan dusta semakin subur karena masyarakat penerimanya justru menyukainya. Padahal, daya rusak semburan dusta bisa memengaruhi individu hingga bisa merusak tatanan sosial suatu bangsa. "Semburan dusta ini tidak berhenti dan bikin kecanduan," katanya. 

Senada, pendiri Bandung Fe Institute Hokky Situngkir mengatakan, berkembangnya hoaks dalam era disinformasi kerap menimbulkan keguncangan emosional bagi publik. Masyarakat pun seringkali lebih tertarik mencari tahu identitas penyebar hoaks ketimbang mengantisipasi dampak negatif isi hoaks.

“Di balik setiap faktor (isu), kita selalu terdorong mencari aktornya. Padahal persoalan yang terpenting apa isu dari hoaks itu. Jangan mencari-cari siapa aktornya,” kata Hokky.

Karena itu, Hokky meminta publik cerdas dalam menyaring informasi. "Kita hampir tak bisa mengontrol semua disinformasi ini. Yang bisa kita lalukan seperti menunggangi kuda, atau berselancar di atas gelombang informasi,” ujarnya.

Sponsored

Di tempat yang sama, ahli neurosains Universitas Tokyo Ryu Hasan menekankan pentingnya kecerdasan emosional dalam menghadapi derasnya arus informasi di media sosial.

"Kecerdasan emosional jauh lebih penting daripada kecerdasan logika. Sebab kecerdasan emosional menopang kecerdasan sosial yang membentuk kesepakatan-kesepakatan kita," kata Ryu. (Ant)