sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

SMRC: Golkar dapat suara banyak jika calonkan Ganjar Pranowo

Golkar mengalami penguatan dari 11% menjadi 17 persen% jika mencalonkan Ganjar Pranowo.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Kamis, 17 Nov 2022 17:02 WIB
SMRC: Golkar dapat suara banyak jika calonkan Ganjar Pranowo

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, disebut akan mengubah peta dukungan partai politik jika dicalonkan oleh Partai Golkar di Pilpres 2024. Demikian temuan survei eksperimental yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Menurut temuan SMRC, Ganjar akan membawa dampak positif bagi Golkar bila dicalonkan sebagai presiden. Sebaliknya, PDIP justru mengalami penurunan suara sebesar 7% jika melepas Ganjar.  

Pendiri SMRC Saiful Mujani menjelaskan, survei eksperimental yang dilakukan SMRC untuk menilai efek calon presiden terhadap perolehan suara Partai Golkar. Ada tiga tokoh yang dipilih dan diperlakukan sebagai treatment, yakni Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ganjar, dan Menteri BUMN Erick Thohir.

Dalam presentasinya, Airlangga dimasukkan karena dia sebagai ketua partai. Ganjar karena ada diskusi di kalangan Golkar untuk diusung calon. Sementara, Erick adalah politikus non-partai yang selama ini sudah melakukan sosialisasi.

"Tokoh-tokoh lain yang sudah dideklarasikan oleh partai lain tidak dimasukkan, seperti Prabowo Subianto dan Anies Baswedan," kata Saidul dalam rilis temuan survei SMRC bertajuk Siapa Capres yang Membantu Menaikkan Golkar? pada Kamis (17/11).

Saiful menerangkan, di antara tiga nama tersebut, studi ini menemukan bahwa Ganjar memiliki efek positif pada penguatan suara Golkar. Dalam treatment, SMCR mengajukan pertanyaan kuesioner, jika Golkar mencalonkan Ganjar sebagai presiden, partai atau calon dari partai mana yang akan dipilih.

Dalam simulasi ini, Golkar mengalami penguatan dari 11% menjadi 17 persen%. Kenaikan suara Golkar kurang lebih 6%. Menurut Saiful, ini menunjukkan Ganjar bisa menaikkan suara partai Golkar, jika dia dicalonkan.

Namun ada catatan yang sangat menarik, menurut Saiful. Bila Golkar mencalonkan Ganjar, maka suara PDIP menjadi turun dari 25% (variabel kontrol) menjadi 18%.

Sponsored

Saiful menjelaskan bahwa selama ini, dalam beberapa survei, PDIP mendapatkan suara selalu melampaui perolehan pada Pemilu 2019. Menurut dia, salah satu unsur suara PDIP tersebut adalah pendukung Ganjar. Jika Ganjar dicalonkan atau pindah ke partai lain, sebagian suara PDIP juga pindah.

"Kalau Ganjar dicalonkan oleh Golkar, dia mengajak (sebagian) pemilihnya pergi ke Golkar," ucapnya.

Lebih jauh Saiful menyatakan bahwa jika Golkar mencalonkan Ganjar, peta kekuatan politik partai mengalami perubahan, di mana Gerindra, PDIP, dan Golkar menjadi berimbang.

Saiful pun mengingatkan agar PDIP perlu berhati-hati dengan hasil temuan ini. 

"Kalau PDIP ingin menjaga suaranya, mereka harus hati-hati dengan fakta ini. Jangan sampai Ganjar diambil oleh partai lain," kata Saiful.

Sementara, bila Golkar mencalonkan Airlangga untuk menjadi presiden, partai atau calon partai mana yang akan dipilih, hasilnya partai Golkar mendapatkan 13% suara. Ada kenaikan dua persen dari hasil variabel kontrol, tapi tidak signifikan.

Saiful menjelaskan bahwa kenaikan 2% ini tidak cukup signifikan untuk menyatakan pencalonan Airlangga memiliki efek positif pada perolehan suara Golkar. Namun penting digarisbawahi, lanjut Saiful, setidak-tidaknya pencalonan Airlangga tidak memiliki efek negatif.

"Airlangga tidak memiliki efek, baik positif maupun negatif, pada suara partai Golkar. Karena itu, jika Golkar mencalonkan Airlangga, kemungkinan menaikkan suara Golkar tidak terjadi," ujar Saiful.

Kemudian, apabila Golkar mencalonkan Erick, suara partai ini juga tidak mengalami perubahan. Dalam variabel kontrol, Golkar mendapatkan 11% suara. Ketika disebut nama Erick sebagai calon presiden, suara Golkar tetap sama, 11%. Partai-partai lain seperti PDIP dan Gerindra juga relatif sama.

Ini menurut Saiful, logis karena Erick bukan kader partai. Dia tidak punya gerbong yang bisa dibawa. Erick adalah pendatang baru dalam politik. Dia tidak memiliki efek untuk memperbesar Golkar jika diusung menjadi calon presiden.

Dengan demikian, tegas Saiful, yang bisa membantu peningkatan suara Golkar adalah Ganjar Pranowo. Namun, pencalonan Ganjar oleh Golkar bisa mengubah peta kekuatan partai politik Indonesia.

"Karena itu, diskusi antara Golkar dan PDIP di sini menjadi sangat penting," ucapnya.

Saiful melihat bahwa Ganjar Pranowo adalah figur yang relatif terbuka. Jika ada penjelasan yang meyakinkan, dia bisa saja pindah ke partai lain. Namun demikian, lanjutnya, hal semacam itu tidak terlalu baik dalam konteks pendidikan politik. Seharusnya orang yang sudah berkarir dalam partai politik begitu panjang, tetap ada di partai tersebut.

"Jangan justru sudah ada di puncak, lalu dia keluar. Itu tidak baik untuk penguatan sistem kepartaian yang ada di Tanah Air," katanya.

Menurut Saiful, PDIP memiliki kepentingan agar suara dukungannya besar. Karena itu, kata dia, menjadi logis dan bijaksana apabila partai ini mempertimbangkan secara lebih serius calon presiden PDIP. Jika tidak, PDIP bisa kena dampak negatifnya. Dalam banyak survei, suara PDIP selalu nomor satu, tapi ketika Ganjar tidak ada di PDIP, peta dukungan berubah dan PDIP tidak lagi ada di posisi teratas.

"Faktor Ganjar sangat kuat dan bisa mengubah peta politik nasional," ucapnya.
 

Berita Lainnya
×
tekid