sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kemarahan tumbuh di Tunisia

Aksi protes dengan bakar diri pedagang buah di Tunisia menginspirasi lahirnya Arab Spring di Timur Tengah.

Cindy Victoria Dhirmanto
Cindy Victoria Dhirmanto Selasa, 15 Des 2020 22:27 WIB
Kemarahan tumbuh di Tunisia
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Sepuluh tahun lalu, seorang penjual buah membakar dirinya di kota Sidi Bouzid, Tunisia tengah. Insiden terjadi setelah dirinya bertengakar dengan seorang polisi wanita tentang  tempat berjualannya. Kata-kata pembangkangan Mohammed Bouazizi dengan cepat menyebar dan memicu protes nasional yang akhirnya menggulingkan pemimpin lama Tunisia dan membantu menginspirasi pemberontakan di seluruh wilayah yang disebut Arab Spring.

Demonstrasi besar-besaran terjadi di Mesir dan Bahrain, pemerintahan jatuh dan perang saudara melanda Libya, Suriah, dan Yaman. Sekarang rakyat Tunisia bebas memilih pemimpin mereka dan dapat secara terbuka mengkritik negara. Namun, untuk semua kekacauan yang telah mereka alami, banyak orang mengingat kembali peristiwa tahun 2010 dan menyesali impian mereka tetap tidak terpenuhi.

“Ada yang tidak beres dalam revolusi,” kata Attia Athmouni, pensiunan guru filsafat yang membantu memimpin pemberontakan, setelah kematian Bouazizi dengan berdiri di gerobak penjual buah yang ditinggalkan untuk berbicara kepada orang banyak pada malam dia meninggal.

Protes terjadi dalam beberapa pekan terakhir di kota-kota selatan Tunisia yang lebih miskin karena pengangguran, layanan negara yang buruk, ketidaksetaraan, dan serbakekurangan. Perjuangan berat untuk mendapatkan gas agar bisa memasak merupakan kesulitan yang dihadapi orang-orang biasa di negara di mana ekonominya stagnan, membuat publik marah seperti satu dekade lalu.

Dekat dengan kota Sidi Bouzid, kerumunan orang menempatkan batu besar di seberang aspal untuk memblokir jalan utama pada pekan lalu. Mereka ingin truk yang membawa tabung gas untuk memasak ke kota diturunkan di desa mereka.

Persediaan gas di Tunisia menipis sejak orang-orang yang tinggal di dekat pabrik utama milik negara yang memproduksi gas menutup fasilitasnya, beberapa minggu lalu. Masyarakat setempat menuntut lebih banyak tenaga kerja lokal.

Di luar outlet utama untuk memasak gas di Sidi Bouzid, tiga van polisi antihuru-hara menjaga gerbang saat ratusan orang menunggu untuk mendapatkan silinder penuh. Seorang wanita di depan kerumunan mengatakan, tidak punya gas selama tiga hari dan keluarganya hanya makan makanan dingin. Dia telah mengantre selama enam jam 30 menit.

Revolusi
Demonstrasi yang lebih besar mungkin terjadi di Tunisia pada hari Kamis (17/12) waktu setempat, hari peringatan Bouazizi bakar diri setelah gerobak buahnya disita karena menolak direlokasi pindah dari lapangan tanpa izin.

Sponsored

Slimane Rouissi, aktivis Sidi Bouzid lainnya dan mantan guru yang mengenal keluarga Bouazizi, mengatakan, pemuda itu telah mengalami serangkaian kekecewaan sebelum konfrontasi terakhir. Dia membasahi dirinya dengan bensin dan bunuh diri di depan kantor gubernur setempat. Ketika Athmouni, pensiunan guru, mendengar tentang kejadian tersebut, langsung membubarkan kelasnya dan menyuruh murid-muridnya mulai memprotes.

Malam itu, ketika ratusan orang berkumpul di luar wilayah gubernur dan meneriakkan slogan-slogan, dia mendengar kata-kata “rakyat menginginkan jatuhnya rezim” yang akan segera menjadi ungkapan populer dari revolusi Tunisia untuk pertama kalinya.

Selama beberapa minggu mendatang protes tumbuh. Pada Januari 2011, ribuan orang berbaris di Tunis dan Presiden Zine El-Abidine Ben Ali, yang berkuasa selama 23 tahun, menyadari permainan telah berakhir. Dirinya melarikan diri ke Arab Saudi, di mana dia meninggal di pengasingan tahun lalu.

Revolusi Tunisia menyebar. Di Mesir, massa memaksa Hosni Mubarak lengser dari kekuasaan setelah 30 tahun menjabat presiden. Pemberontakan tersebut mengguncang Libya, Suriah, Bahrain, dan Yaman. Harapan akan masa depan demokrasi baru berubah menjadi pertumpahan darah, terutama di Suriah, Yaman, dan Libya, lantaran perang saudara menarik kekuatan besar karena takut musuh regional mereka mendapatkan keuntungan.

Meskipun jalur demokrasi Tunisia jauh lebih mulus, ekonominya memburuk dan para pemimpin politik tampak lumpuh. Pemilu tahun lalu menghasilkan parlemen yang terfragmentasi dengan pahit yang tidak dapat menghasilkan pemerintahan yang stabil. Partai-partai pun bertengkar tentang kursi kabinet dan menunda keputusan besar.

Lebih banyak orang Tunisia mencoba secara ilegal meninggalkan tanah airnya dari sebelumnya, sedangkan visi jihad memikat pemuda pengangguran yang terasing. Kedua dinamika tersebut disinyalir memengaruhi terjadinya serangan di Nice oleh seorang migran muda Tunisia yang membunuh tiga orang di sebuah gereja, baru-baru ini.

“Ada perpecahan antara politisi dan rakyat sekarang karena sistem tidak dapat memahami tuntutan jalanan,” ujar Athmouni dengan getir di sebuah kafe di Sidi Bouzid, yang dipenuhi pemuda pengangguran.

Nirinvestasi
Di jalan-jalan dekat rumah tua Bouazizi, dengan bangunan satu lantai yang lusuh di belakang gerbang logam penyok, sekelompok pemuda berdiri mengobrol di sudut jalan.

Sabri Amri (26) tertawa ketika ditanya apakah memberikan suara dalam pemilihan pascarevolusi Tunisia. Katanya, dia dan teman-temannya hanyalah menginginkan pindah. "Tidak ada pekerjaan dan kaum muda menghabiskan waktu mereka dengan minum atau memakai narkoba," tambahnya.

“Kami memiliki para jenius di sini, seperti dokter, insinyur. Saya kenal seorang pria yang merupakan insinyur mesin. Apa yang dia lakukan sekarang? Dia menjual gulma hanya untuk hidup,” ujar Abdullah Gammoudi, seorang guru olah raga berkualitas yang tidak memiliki pekerjaan.

Di Sidi Bouzid, satu-satunya tanda investasi yang nyata sejak 2011 adalah bangunan baru di luar kota untuk menggantikan markas gubernur di mana Bouazizi meninggal dan tugu peringatannya berupa batu dengan ukiran gerobak buah dan coretan grafiti bertuliskan "Rakyat menginginkan..."

Mohammed Bouali (37) berdiri di belakang kantor pemerintah di jalan utama Sidi Bouzid, gerobaknya penuh dengan jeruk, apel, dan pisang. Dia dan Bouazizi dulu bekerja di jalan yang sama. Meskipun pekerjaannya hanya menimbang buah untuk pelanggan dengan skala kecil yang mungkin saja tidak cukup untuk menghidupi kedua anaknya, dia memiliki sedikit pilihan lain.

“Pemerintah tidak akan memberikan apa-apa,” katanya.

Polisi wanita yang menyita gerobak Bouazizi pada 10 tahun lalu masih berpatroli di jalan yang sama, memindahkan pedagang tanpa izin dari tempat mereka berada. Athmouni yakin, jawabannya adalah lebih banyak protes. Pemberontakan massal di Aljazair dan Sudan menggulingkan para pemimpin di sana tahun lalu.

“Saya yakin revolusi terus berlanjut,” katanya. “Tahun ini amarahnya lebih besar daripada di masa lalu.” (REUTERS)

Berita Lainnya