sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

PBB akan segera resmikan perubahan nama Turki menjadi Turkiye

Turki telah mengatakan kepada PBB bahwa, atas perintah presidennya, mereka ingin mulai sekarang disebut “Türkiye” dalam semua bahasa.

Fitra Iskandar
Fitra Iskandar Jumat, 03 Jun 2022 16:07 WIB
PBB akan segera resmikan perubahan nama Turki menjadi Turkiye

Turki ingin menggunakan nama negara baru, dalam forum internasional. Negara berbendera bulan sabit itu, ingin warga dunia menyebut 'Tukriye', sebagai nama resmi mereka. 

Turki telah mengatakan kepada PBB bahwa, atas perintah presidennya, mereka ingin mulai sekarang disebut “Türkiye” dalam semua bahasa.

“Perubahannya segera,” kata Stephane Dujarric, juru bicara Sekjen PBB, mengatakan kepada AFP melalui email.

Dia mencatat bahwa surat resmi Ankara yang meminta perubahan telah diterima di markas besar PBB di New York pada hari Rabu.

Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt avuşoğlu telah men-tweet foto dirinya yang menandatangani surat tersebut, yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

“Dengan surat yang saya kirim ke Sekjen PBB hari ini, kami mendaftarkan nama negara kami dalam bahasa asing di PBB sebagai ‘Türkiye,'” tulisnya.

Dia menambahkan bahwa perubahan itu akan mengakhiri proses “peningkatan nilai brand negara,” sebuah inisiatif yang dimulai oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, yang telah memimpin negara itu selama hampir dua dekade.

Selama beberapa tahun terakhir, negara tersebut telah berupaya mengubah branding pada produknya dari “buatan Turki” menjadi “buatan Türkiye.”

Sponsored

Selain membuat nomenklatur PBB sesuai dengan ejaan negara dalam bahasa Turki, pembaruan tersebut juga akan membantu membedakan negara tersebut dari burung dengan nama yang sama dalam bahasa Inggris atau kalkun dalam bahasa Indonesia.

“Perubahan nama mungkin tampak konyol bagi sebagian orang, tetapi itu menempatkan Erdogan dalam peran pelindung, menjaga rasa hormat internasional terhadap negara itu,” kata profesor Universitas Georgetown Mustafa Aksakal seperti dikutip di The New York Times.

Surat kabar itu juga mencatat bahwa langkah itu dilakukan menjelang pemilihan presiden tahun depan serta seratus tahun berdirinya negara itu setelah pembubaran Kekaisaran Ottoman.(turkishminute)

Berita Lainnya
×
tekid