logo alinea.id logo alinea.id

Pemimpin oposisi akan memulai tugasnya sebagai Presiden Venezuela

Juan Guaido mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara Venezuela pada 23 Januari. Dia didukung AS dan sejumlah negara lainnya.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Rabu, 27 Feb 2019 16:51 WIB
Pemimpin oposisi akan memulai tugasnya sebagai Presiden Venezuela

Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido mengatakan, dia akan berlatih untuk menjalankan tugas-tugasnya sebagai presiden segera setelah kembali negaranya dari Kolombia, di mana dia bertatap muka dengan Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence pada Senin (25/2).

Guaido, yang merupakan Ketua Majelis Nasional mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara Venezuela pada 23 Januari lalu.

Dalam pesan yang diunggah ke Twitter, Guaido mengatakan dia akan memberikan instruksi selanjutnya.

"Saya meminta Anda untuk menyebarkan pesan kita secara besar-besaran," tulisnya di Twitter. "Tidak ada yang dapat menghentikan kita."

Guaido bertemu dengan Wapres Pence dan Presiden Kolombia Ivan Duque di Bogota, di mana badan diplomatik yang dibentuk untuk membantu mengurangi krisis Venezuela, Kelompok Lima, melangsungkan pertemuan.

Pertemuan itu menyusul bentrokan yang mewarnai akhir pekan di Venezuela, di mana militer memblokir konvoi bantuan untuk memasuki negara itu. Nyaris 300 orang terluka dan 37 orang dirawat di rumah sakit, ketika pasukan pemerintah menembakkan gas air mata dan menembakkan peluru karet ke kerumunan demonstran di perbatasan Venezuela-Kolombia.

Perwakilan Majelis Nasional dan pendukung Guaido, Adriana Pichardo, mengatakan bahwa setidaknya lima orang tewas dalam bentrokan selama akhir pekan. Jumlah itu tidak dapat dikonfirmasi, tetapi Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Michelle Bachelet mengungkapkan jumlah korban tewas empat orang dan 300 lainnya cedera.

Sponsored

Guaido telah menyerukan agar negara-negara lain mengirim bantuan ke Venezuela sebagai respons atas memburuknya kekurangan makanan dan obat-obatan. Tetapi Maduro yang memenangi pemilu tahun lalu menyangkal bahwa negara itu dilanda krisis kemanusiaan dan menuding bahwa upaya pengiriman bantuan adalah bagian dari rencana AS untuk mengatur kudeta.

Sementara itu, pada Senin, Wapres Pence mengatakan bahwa AS akan menjatuhkan sanksi tambahan kepada para pemimpin Venezuela dan berjanji akan memberikan lebih banyak bantuan kepada kawasan itu. Pada saat bersamaan dia mendesak negara-negara tetangga untuk berbuat lebih banyak untuk menghadapi pemerintahan Maduro.

Pasca-pertemuan Kelompok Lima pada Senin, Presiden Duque menuturkan, cara untuk menangani krisis Venezuela adalah melalui diplomasi bukan perang. Dia menekankan bahwa KTT Lima menekankan pada diplomasi dan tidak pada hasutan untuk berperang.

Perwakilan Khusus AS untuk Venezuela Elliott Abrams pada Selasa menyatakan, dia yakin setelah pertemuan DK PBB akan ada resolusi mengenai Venezuela.

"Saya pikir kita akan mendapat resolusi minggu ini, yang tentunya akan menyerukan masuknya bantuan kemanusiaan ke Venezuela dan akan mengomentari peristiwa beberapa hari terakhir," katanya.

Dia juga mengatakan sanksi AS terhadap pejabat rezim Maduro akan terus berlanjut.

"Kami mengumumkan beberapa sanksi kemarin. Akan ada lebih banyak," kata Abrams. "Akan ada lebih banyak minggu ini, akan ada lebih banyak minggu depan. Kami akan terus menjatuhkan sanksi pada anggota tingkat tinggi rezim dan orang-orang yang menangani urusan keuangan mereka."

Selama pertemuan dengan keluarga migran Venezuela di Bogota, Pence mengatakan AS akan terus memberikan bantuan kepada keluarga mereka dan akan mendukung Guaido.

"Kami bersama Anda, dan kami akan tinggal bersama Anda sampai Anda kembali mendapat kebebasan," katanya, sesuai dengan pernyataan yang diberikan oleh Gedung Putih. "Percayalah bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, Amerika Serikat dan negara-negara yang mencintai kebebasan di seluruh dunia akan mendukung Anda."

Rezim Maduro telah mengecam AS atas pengiriman bantuan dan dukungannya kepada Guaido. Pekan lalu, Maduro mengumumkan bahwa dia memutuskan semua hubungan dengan Kolombia dan memerintahkan duta besar untuk meninggalkan negara itu, dan mengancam AS.

Jorge Arreaza, Menteri Luar Negeri Venezuela menyebut kekerasan di perbatasan sebagai "kudeta" yang gagal dan mengecam pemerintah AS karena mengorganisir, membiayai, dan memimpin agresi yang jelas terhadap Venezuela.

Dia mengatakan intervensi AS melampui batas dan solusi untuk masalah yang dihadapi negaranya harus datang dari dalam. Arreaza mencap Trump munafik.

"Trump menyatakan krisis kemanusiaan di selatan Amerika Serikat karena dia ingin membangun dinding rasis," kata Arreaza. "Jadi apa yang akan terjadi jika Kuba, Venezuela, atau Nikaragua datang dengan konvoi dan mencoba memaksa masuk melalui perbatasan selatan ... merespons keadaan darurat kemanusiaan, dengan mengatakan bahwa itu adalah upaya menyalurkan bantuan kemanusiaan?."

Sumber : CNN