sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Penggalan kisah pembelajaran kewarganegaraan ala homeschooling

Latar belakang nilai setiap keluarga, menentukan tujuan dan arah pendidikan yang dilangsungkan melalui metode homeschooling.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Selasa, 17 Des 2019 12:43 WIB
Penggalan kisah pembelajaran kewarganegaraan ala homeschooling
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 248852
Dirawat 57796
Meninggal 9677
Sembuh 180797

Praktik pendidikan berbasis keluarga yang lebih dikenal dengan homeschooling atau sekolah rumah diduga rentan menjadi tempat bertumbuhnya paham radikalisme dan sikap intoleransi.

Akhir November lalu, penelitian berjudul “Homeschooling dan Radikalisme: Menakar Ketahanan dan Kerentanan”, menganalisis kualitas kewarganegaraan anak dalam keluarga yang menerapkan metode pendidikan homeschooling.

Hasil penelitian tim periset dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut menyimpulkan praktik sekolah rumah dinilai cukup rentan terhadap bertumbuhnya paham radikalisme dan intoleransi.

Sebagaimana disampaikan oleh koordinator peneliti PPIM UIN Jakarta Arif Subhan, akhir November lalu, penelitian menghimpun data 56 sampel homeschooling yang tersebar di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Bandung, Solo, Surabaya, Makassar, dan Padang. Dari hasil wawancara dan observasi, diketahui sejumlah homeschooling terpapar ideologi keagamaan radikal.

Hal ini terindikasi dari sikap menolak memberi ucapan selamat hari besar agama lain, pembatasan interaksi sosial, dan menginginkan pemurnian melalui penerapan hukum agama dalam bingkai negara agama.

Homeschooling seperti ini umumnya memiliki tingkat interaksi sosial yang rendah dan tidak terdaftar di pemerintah,” kata Arif Subhan, di Jakarta, Kamis (28/11).

Sementara anggota tim peneliti PPIM UIN Didin Syafruddin menjelaskan, penelitian itu menganalisis 129 responden pelaku homeschooling untuk mendapatkan gambaran tingkat kewarganegaraan anak dalam keluarga yang menerapkan metode pendidikan homeschooling.

Tiga tolok ukur yang dipakai ialah pengetahuan tentang kewarganegaraan (civic knowledge), sikap kewarganegaraan (civic attitude), dan keterlibatan dalam hidup bermasyarakat (civic engagement).

Sponsored

“Bila tidak bekerja sama dengan kelompok lain, maka levelnya rentan terhadap radikalisme. Sebaliknya, jika menerima Pancasila, bergaul dengan pihak yang berbeda, keluarga itu menunjukkan ketahanan dari potensi radikalisme,” kata Didin, di Jakarta, Selasa (3/12).

Didin mengungkapkan, hasil penelitian itu sebagai masukan dan untuk mengingatkan lembaga pemerintah agar berupaya meningkatkan kewaspadaan atas potensi penumbuhan paham radikalisme melalui sekolah rumah. Dia mengatakan pula hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasi bagi semua keluarga praktisi sekolah rumah.

Dikenal dengan pola pendidikan yang menawarkan kebebasan dan keleluasaan bagi anak, homeschooling dinilai mengimbangi sistem pembelajaran di sekolah formal yang cenderung kaku dan normatif. Namun, nilai kebebasan itu ditengarai memberi celah potensi penyuburan paham radikalisme dan sikap intoleransi.

Pengamat pendidikan Darmaningtyas memandang aktivitas dan nilai yang ditanamkan melalui homeschooling bergantung pada pihak penyelenggaranya. Darmaningtyas mengatakan, kegiatan pendidikan berbasis sekolah rumah (homeschooling) yang minim dengan pengawasan membuat sekolah rumah berpeluang disusupi pemahaman radikal.

Homeschooling ini kan lebih longgar (aturan pembelajarannya) dibandingkan sekolah formal,” kata Darmaningtyas.

Terkait itu, menurut dia, pelaksanaan metode homeschooling juga dapat bermacam bentuk yang ditentukan berdasarkan masing-masing keluarga yang menjalankannya.

Latar belakang nilai setiap keluarga, menurut Darmaningtyas, menentukan tujuan dan arah pendidikan yang dilangsungkan melalui metode homeschooling. Lantaran hal itulah, Darmaningtyas menilai, paham radikalisme atau intoleransi dimungkinkan muncul melalui sekolah rumah.

“Mungkin saja pada pendiri homeschooling yang diteliti itu ditemukan memunculkan fenomena tersebut (radikalisme/intoleransi). Bisa jadi karena pemilik homeschooling itu berbasiskan ideologi tertentu,” katanya.

Terhadap penelitian PPIM MUI tersebut, Darmaningtyas menilai berlaku limitasi penelitian.

Menurut dia, dalam setiap penelitian, ada keterbatasan kelompok yang diteliti sehingga membuat generalisasi tidak bisa berlaku.

“Bisa juga penelitian itu mengandung kebenaran, tetapi masih terbatas pada lingkup kelompok yang menjadi subjek penelitiannya,” kata dia menegaskan.

Lebih jauh, Darmaningyas melihat homeschooling memiliki nilai positif yang menjadi alasan kemunculannya sebagai alternatif metode pendidikan. Beberapa di antaranya ialah memberikan keleluasan anak-anak dalam belajar, juga menjamin pilihan pengembangan minat dan bakat anak dengan lebih terbuka dan demokratis.

Namun, Darmaningtyas menimbang pula sisi lain yang cenderung menjadi kelemahan metode homeschooling. Hal ini terutama peluang anak bersosialisasi yang relatif lebih terbatas daripada dalam sekolah formal.

“Dalam konteks pergaulan, sekolah formal dengan murid yang banyak memberikan ruang perjumpaan lebih banyak dengan orang lain. Ini sangat berguna pada saat mereka sudah remaja karena memberikan kesempatan sosialisasi lebih luas,” katanya membandingkan.

Berita Lainnya