sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Mahfud MD bandingkan kebebasan beribadah pada era Jokowi dan Soeharto

Bagi Mahfud MD, pada era Jokowi saat ini kebebasan beribadah jauh lebih baik ketimbang tahun 80-an saat rezim Soeharto.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Jumat, 25 Okt 2019 18:08 WIB
Mahfud MD bandingkan kebebasan beribadah pada era Jokowi dan Soeharto
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 27549
Dirawat 17662
Meninggal 1663
Sembuh 7935

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyoroti kehidupan beragama yang berjalan di setiap kantor pemerintahaan. Menurutnya, kehidupan keberagamaan di setiap kantor pemerintahan telah berjalan baik.

Hal ini diucapkan setelah ia melaksanakan ibadah salat Jumat pertama di masjid Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Jumat (25/10). Tentunya keadaan tersebut dinilai Mahfud sangat baik dibandingkan pada tahun 80-an era Presiden Soeharto.

"Jadi orang Islam itu harus berbangga, karena di tahun 80-an, kantor pemerintah itu kalau punya masjid dianggap aneh," papar Mahfud di Kemenko Polhukam, Jumat (25/10) WIB.

Mahfud menuturkan, saat itu kegiatan keagamaan di kantor-kantor pemerintah dianggap mengganggu, dianggap kurang sejalan dengan kehidupan modern. Oleh karenanya, ketika sekarang setiap kantor pemerintah telah tersedia masjid-masjid, muslim Indonesia patut berbangga diri.

Mahfud sendiri juga berharap bukan hanya tempat ibadah untuk umat Islam saja yang tersedia di kantor pemerintah. Ia tidak mempermasalahkan jika di setiap kantor juga membangun tempat-tempat ibadah agama lain.

Berangkat dari itu, Mahfud mendorong kehidupan beragama berjalan semakin baik lagi. Ia mewanti-wanti agar tidak ada yang membangun pertentangan dan permusuhan lewat tenpat-tempat ibadah.

"Yang ingin saya katakan, misalnya untuk masjid itu bukan untuk membangun pertentangan dan permusuhan. Masjid dan pengajian di kantor-kantor itu untuk membangun persaudaraan dan kesejukan," ujar mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu.

Tempat ibadah, khususnya masjid sebagai tempat ibadah mayoritas tidak boleh dijadikan medium untuk mengadu domba. Ia amat menentang jika ada masjid yang mengundang para penceramah yang memiliki sifat takfiri. Artinya, menganggap orang lain musuh atau kafir jika berbeda pandangan.

Sponsored

"Di negara Pancasila ini, kehidupaan keberagamaan dijamin sepenuhnya oleh negara. Masjid-masjid dikelola dengan baik untuk tidak menimbulkan bibit-bibit permusuhan hanya karena perbedaan pandangan, perbedaan paham dalam kehidupan beragama," ungkap dia.

Hendaknya, masjid-masjid dapat membangun kedamaian di hati. Selain itu dapat membangun persaudaraan sesama umat manusia.

Berita Lainnya