sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Rizal Ramli sentil Mendag Enggar soal impor pangan

Di sela-sela pemeriksaan soal kasus BLBI, Rizal justru mengungkit soal kasus Mendag Enggar.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Jumat, 19 Jul 2019 12:35 WIB
Rizal Ramli sentil Mendag Enggar soal impor pangan

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia dimintai keterangan soal kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Di sela-sela pemeriksaan, Rizal Ramli justru menyentil ulah Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita. Semula, Rizal Ramli meminta pemimpin KPK yang mendekati akhir masa baktinya lebih giat mengusut sejumlah skandal besar korupsi yang terjadi. Ia mencontohkan, kasus BLBI dan Bank Century yang masih gelap. 

Menurut mantan Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur itu, seharusnya pimpinan KPK jilid IV lebih agresif mengusut perkara besar praktik rasuah. Jika langkah tersebut dilakukan, maka bisa menjadi suatu prestasi KPK era Agus Rahardjo.

Rizal Ramli kemudian menyentil Mendag Enggar yang dituding telah melakukan korupsi. Mendag Enggar disebut Rizal Ramli telah melakukan penyalahgunaan wewenang. 

Bahkan, politikus Partai NasDem tersebut disebut Rizal Ramli telah melakukan praktik rasuah dalam kebijakan impor pangan. Akibatnya, telah terjadi kerugian yang diakibatkan oleh impor tersebut. 

Rizal mendesak agar KPK menindaklanjuti laporannya pada 23 Oktober 2018. Baginya, terlihat kerugian yang dirasakan petani akibat impor besar yang jumlahnya mencapai 1,5 juta ton. 

Selain beras, komoditas lain yang disebut Rizal diimpor dengan jumlah besar adalah: garam dan gula. Kata Rizal sebanyak 1,5 juta garam impor datang ke Indonesia dan jumlah impor gula mencapai 2 juta ton. 

Atas kebijakan tersebut, gudang beras Badan Urusan Logistik (Bulog) menjadi kelebihan kapasitas. Bulog juga diprediksi akan mengalami kerugian.

Sponsored

"Bulog gudangnya kepenuhan karena berasnya tidak laku. Bulog akan mengalami kerugian keuangan gara-gara impor ugal-ugalan ini," ucap Rizal.

Berdasarkan pengalamannya saat mengunjungi Madura dan Jombang, Jawa Timur, seorang petani mencurahkan keluh kesahnya akibat impor pangan yang berlebihan.

"Petani garam itu minta tolong. 'Pak tolong pak, anak saya kuliahnya dari garam, gara-gara garam saya enggak laku dua anak saya mesti berhenti kuliah'. Nangis dia. Di Jombang saya ketemu petani tebu juga sama. 'Pak ini kok sadis banget, pemerintah enak saja impor gula dua juta ton. Gula kami tidak laku hanya disimpan sama teman-teman petani di rumah yang akhirnya jadi batu'," tutur Rizal, sambil menirukan ucapan petani.

Rizal mendesak KPK segera menindaklanjuti laporan tersebut. Dia menilai, skandal dugaan korupsi dari kebijakan impor pangan dapat ditindaklanjuti oleh komisi antirasuah.

Ia mempertanyakan dokumen-dokumen yang telah disampaikan ke KPK soal impor pangan ini yang belum ditindak oleh KPK. 

"Saya minta KPK jangan istilahnya kasus yang sudah matang dibikin mengkel terus gitu loh dalam kasus korupsi dan penyalahgunaan yang merugikan rakyat petani dan negara dalam konteks Kementrian Perdagangan," ujar Rizal.