sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Yang terjadi saat varian baru Covid-19 tiba di Indonesia 

Tak hanya lebih cepat menular, varian Covid-19 asal Inggris yang kini menyebar ke puluhan negara terindikasi lebih mematikan.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Jumat, 19 Feb 2021 06:01 WIB
Yang terjadi saat varian baru Covid-19 tiba di Indonesia 
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Pertama kali terdeteksi pada awal September 2020 di Kent, Inggris, tak butuh lama bagi varian virus berkode B.1.1.7 untuk menggeser dominasi varian Sars-Cov-2 lawas yang beredar di Inggris Raya. Pada akhir Desember 2020, dua dari tiga kasus Covid-19 di Inggris dilaporkan disebabkan varian B.1.1.7. 

Hasil surveilans genom awal yang dirilis Public Health England (PHE) pada 20 Desember 2020 menemukan bahwa varian B.1.1.7 punya lebih banyak mutasi pada tanduk proteinnya. Mutasi itu, jelas PHE, menyebabkan virus potensial lebih cepat menular.

Pada 14 Januari 2021, WHO mengumumkan varian asal Kent itu telah menyebar ke 50 negara. Dua pekan berselang, WHO kembali mengumumkan bahwa varian B.1.1.7 terdeteksi telah ada di 70 negara. Di Amerika Serikat, varian tersebut bahkan diprediksi bakal jadi varian dominan pada Maret 2021. 

Tak hanya lebih cepat menular, riset terbaru yang digelar New and Emerging Respiratory Virus Threats Advisory Group (NERVTAG) mengindikasikan varian B.1.1.7 cenderung lebih mematikan ketimbang pendahulunya. Dalam risetnya, peneliti menemukan pasien bergejala berat yang terinfeksi varian B.1.1.7, angka kematiannya cenderung lebih tinggi. 

Di Asia Tenggara, varian B.1.1.7 dilaporkan telah tiba di Vietnam,  Thailand, dan Filipina. Januari lalu, Malaysia juga sempat mengumumkan keberadaan pasien Covid-19 yang terinfeksi varian virus baru asal Inggris. 

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan pemerintah telah membentuk tim khusus untuk mendeteksi kemungkinan varian baru Sars-Cov-2 tiba di Indonesia. 

"Dari genomic surveilance sejauh ini, baik yang partial targeted maupun whole genome sequencing (WGS), sudah sekitar 400 WGS yang di-submit untuk hampir semua provinsi," kata Bambang kepada Alinea.id, Rabu (17/2).

Secara sederhana, WGS ialah proses menyusun urutan genom suatu makhluk hidup secara menyeluruh. Dalam penanganan pandemi, WGS umumnya digunakan untuk mengetahui evolusi virus Sars-Cov-2 dan memonitor penyebaran Covid-19.

Sponsored

Menurut Bambang, surveilans genomik saat ini merupakan metode paling ampuh untuk mendeteksi dan mengantisipasi masuknya varian baru SARS-CoV-2 ke Indonesia. "Saya selaku Menristek, ya, harus melakukan surveilance genomic yang lebih intensif," imbuhnya.  

Kepala Lembaga Biologi Molekular (LBM) Eijkman Amin Soebandrio mengatakan pengujian sampel genom sudah digelar lembaganya sejak awal Desember 2020. Hingga kini, menurut Amin, belum terdeteksi ada varian baru yang masuk ke Indonesia. 

"Sejak pembicaraan dengan Kemenristek/BRIN dan Kementerian Kesehatan itu kemudian jumlah WGS itu meningkat sangat tajam. Yang tadinya jumlahnya seratusan, sekarang sudah mencapai empat ratusan. Target kami sampai seribu WGS," ujar Amin kepada Alinea.id, Rabu (17/2). 

Amin menjelaskan, ada dua jenis sampel yang diprioritaskan sebagai sampel WGS. Pertama, sampel dari klaster baru yang jumlah "korban" yang signifikan. Kedua, sampel dari eks pasien yang kembali terinfeksi Covid-19. "Nah, itu yang didahulukan untuk dilakukan sequencing," kata Amin.

WGS, kata Amin, penting sebagai langkah mendeteksi dini varian-varian baru virus Sars-Cov-2 di Indonesia. Apalagi, sejumlah studi telah mengindikasikan varian baru tersebut jauh lebih "agresif" ketimbang varian lama. 

Selain memperbanyak WGS, Amin juga menganjurkan pemerintah menggelar pelacakan kontak secara masif. "Kalau contact tracing terlambat, tentunya hasilnya juga terlambat sehingga tindakan yang dilakukan juga mungkin terlambat atau virusnya sudah menyebar ke mana-mana," jelas Amin.

Lebih jauh, Amin mengatakan, kehadiran varian baru bakal berpengaruh signifikan terhadap pola penanganan pandemi. Ia mencontohkan sejumlah kemungkinan buruk, semisal tes PCR tak lagi efektif mendeteksi virus serta berkurangnya efektivitas vaksin. 

"Artinya, antibodi yang dibentuk setelah vaksinasi itu tidak bereaksi optimum terhadap virus yang beredar. Tapi, kalau vaksin lain semisal Pfizer segala macam itu mengklaim tetap bisa efektif terhadap varian baru tadi," ujarnya.

Mural karya Banksy yang dihiasi masker di tengah pandemi Covid-19 di Albion Dock, Bristol, Inggris, Kamis (23/4/2020). Foto Antara/REUTERS/Rebecca Naden

Perlu serius diantisipasi

Meski belum "resmi" ditemukan di Indonesia, pakar biologi molekuler Riza Arief Putranto menduga varian baru virus Sars-Cov-2 tetap perlu diwaspadai. Selain dari Inggris, menurut Riza, varian N501Y.V2 dari Afrika Selatan dan varian P1 dari Brazil juga potensial sudah beredar di Indonesia. 

"Terutama untuk varian B.1.1.7 UK (United Kingdom) yang terbukti memiliki kecepatan penularan 1,5 sampai 1,7 kali lebih cepat dibandingkan varian sebelumnya seperti varian D614G di Inggris," kata Riza kepada Alinea.id, Senin (15/2).

Di Inggris, kata Riza, kehadiran varian baru itu meningkatkan jumlah kasus positif Covid-19 hingga sekitar 70%. "Logikanya, jika tadinya butuh waktu 24 jam untuk mencapai 15.000 kasus per hari di UK, maka dengan 70% lebih cepat hanya butuh 14 jam saja untuk mencapai 15.000 kasus," ujarnya.

Mengutip kajian terbaru dari NERVTAG Inggris, Riza mengatakan, varian B.1.1.7 juga diperkirakan lebih mematikan ketimbang varian lama. Pada pasien bergejala berat yang terjangkit Covid-19 varian B.1.1.7, risiko mortalitasnya diyakini meningkat hingga 1,7 kali. 

"Namun demikian, NERVTAG menggarisbawahi perlunya penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan data yang benar-benar menunjukkan kausalitas. Jadi, bukan hanya korelatif (berhubungan) saja," ujar anggota Konsorsium Covid-19 Genomics UK itu. 

Supaya tidak kecolongan, Riza meminta pemerintah mengantisipasi kemungkinan terburuk. Kehadiran varian B.1.1.7, kata dia, bisa membuat fasilitas kesehatan di Indonesia kolaps lantaran tak mampu mengantisipasi jumlah kasus yang berlipat ganda secara cepat.  

"Peningkatan jumlah kasus ini akan membebani BOR (bed occupancy ratio) di rumah sakit sehingga berpotensi untuk mendorong pula peningkatan kematian," kata Riza. 

Selain menggencarkan WGS, Riza mengatakan, penegakan protokol kesehatan juga tidak boleh dilupakan. Menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker (3M) tetap jadi langkah utama untuk mencegah penularan. 

Peneliti Genetika dan Bioteknologi Molekular dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Azzania Fibriani sepakat perlu ada peningkatan jumlah WGS untuk memastikan Indonesia bersih dari varian baru. Menurut dia, sampel WGS yang ada saat ini belum bisa menjadi patokan. 

"Jumlah sampelnya belum banyak. Mungkin saja ada probabilitas belum ada virus varian baru itu atau probabilitas sudah ada, tapi belum ditemukan," jelas Azzania saat dihubungi Alinea.id, Rabu (17/2).

Azzania saat ini juga aktif di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat (Jabar). Menurut dia, baru ada 347 sampel WGS yang diteliti Labkesda Jabar. Itu pun kebanyakan merupakan sampel dari pasien Covid-19 di Pulau Jawa. "Yang belum ter-cover itu dari luar Pulau Jawa," kata dia. 

Soal efektivitas vaksin menghadapi varian baru, Azzania memprediksi tak semua vaksin bakal "gagal". Menurut dia, tiap vaksin dibuat dengan teknologi yang relatif berbeda sehingga kemungkinan memiliki respons yang berbeda pula terhadap virus meskipun virus itu varian baru.

"Perusahaan-perusahaan besar seperti Sinovac, Pfizer atau Moderna itu juga sudah melakukan komputasi. Nah, dimodelkan dalam komputasi kalau ada perubahan, kira-kira vaksinnya masih bisa jalan atau enggak. Artinya, harus ada real kasusnya. Kalau di model komputasi sih, vaksinnya masih bisa jalan," kata dia. 

Menurut Azzania, munculnya gelombang kedua Covid-19 di Inggris karena varian B.1.1.7 tidak serta merta bisa jadi gambaran kondisi Indonesia saat varian baru tiba. Faktor etnis dan genetis yang berbeda juga potensial mempengaruhi keganasan virus. 

"Virus itu, ketika masuk ke tubuh orang, kan sangat bergantung juga dengan faktor genetis dari orang tersebut. Jadi, memang ada hubungannya dengan etnis. Jadi, respon di orang Inggris seperti apa terhadap virus, orang Indonesia seperti apa terhadap virus," tuturnya. 

Meski begitu, ia mengingatkan agar pemerintah tidak lengah. Jika diperlukan, Azzania mengusulkan agar akses masuk warga asing ke Indonesia dibatasi dan pemerintah menggelar tes PCR secara ketat di perbatasan negara. 

"Program surveilans genom nasional juga harus lebih masif. Harapannya, dengan surveilans genom Covid-19 nasional, kita bisa secara rutin mengetahui perkembangan virus yang ada di Indonesia. Jadi, kita tidak kecolongan," ujar dia. 

Petugas medis bersiap memeriksa WNI dari Wuhan, China, di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau, Minggu (2/2/2020)/Foto Kementerian Luar Negeri RI via Antara.

Tingkatkan angka herd immunity 

Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Windhu Purnomo mengatakan varian B.1.1.7 bakal memperburuk kondisi pandemi jika mewabah di Indonesia. Pasalnya, varian baru itu memiliki angka reproduksi dasar (Ro) sebesar 6,5. 

"SARS-CoV-2 di Indonesia itu kan (Ro-nya) sekitar 3,8. Artinya, satu orang itu bisa nulari 3,8 atau sekitar empat orang lain, sedangkan B.1.1.7 itu memiliki risiko penularan 6.5. Jadi, satu orang bisa menularkan enam sampai tujuh orang," kata dia kepada Alinea.id, Senin (15/2).

Jika berbasis hitung-hitungan Ro varian B.1.1.7, menurut Windhu, target herd immunity sebesar 70% untuk mengendalikan pandemi yang disasar pemerintah tidak akan cukup. Indonesia, kata dia, butuh memvaksinasi 85% populasi jika kasus Covid-19 karena varian baru muncul dan mewabah. "Kira-kira (harus memvaksin) 215 juta penduduk," imbuh dia. 

Infografik Alinea.id/Bagus Priyo

Kendati belum terbukti lebih berbahaya dari varian lama, Windhu meminta agar pemerintah tetap mengantisipasi kemungkinan kehadiran varian B.1.1.7 dan varian lainnya. "Sebab jelas bila yang datang lebih cepat menular, maka akan lebih sulit mengendalikan pandemi," ucapnya.

Salah satu langkah antisipasi, kata Windhu, ialah memperluas surveilans genom. Menurut dia, sampel dari Jawa belum menggambarkan kondisi riil di lapangan. "Bagaimana dengan di Bali dan daerah luar Jawa yang lain," kata Windhu.

Windhu juga sepakat akses masuk warga negara asing perlu diperketat di bandara dan pelabuhan. Ia meminta agar warga negara asing yang tidak punya kepentingan mendesak tidak diperkenankan masuk ke Indonesia. Jika perlu, pembatasan akses masuk juga diberlakukan bagi WNI yang datang dari luar negeri.

"Kecuali bila memang ada kepentingan tertentu, semisal untuk diplomat atau yang memang kepentingan kerja sama antar negara. Itu pun harus menjalani karantina terlebih dahulu dan tidak bisa langsung masuk kota," kata Windhu.

Berita Lainnya