sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Dinilai tak tegas pada kubu Jokowi, KPU diprotes SBY

Kubu Jokowi dinilai tak mematuhi aturan pelaksanaan kampanye damai pemilu serentak tahun 2019.

Rakhmad Hidayatulloh Permana
Rakhmad Hidayatulloh Permana Minggu, 23 Sep 2018 13:29 WIB
Dinilai tak tegas pada kubu Jokowi, KPU diprotes SBY
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1790
Dirawat 1508
Meninggal 170
Sembuh 112

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), melakukan aksi walk out dalam acara "Kampanye Damai Pemilu Serentak Tahun 2019" di kawasan Monas, Jakarta Pusat. Aksi SBY ini dilakukan atas kekecewaan pada Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang dinilai tak tegas pada kubu Jokowi-Maruf, yang membawa atribut partai dalam kegiatan tersebut.

"Teman-teman sekalian partai Demokrat dan Pak SBY protes keras terhadap KPU dalam rangka deklarasi ini. Tadi teman-teman melihat Pak SBY hadir. Tadi malam saya menelepon Ketua KPU, Pak SBY akan hadir, tapi baru kira-kira lima menit tadi ikut, beliau turun, dan walk out meninggalkan barisan, karena melihat banyak sekali aturan main yang tak disepakati," kata Sekjen Partai Demokrat, Hinca Panjaitan, Minggu (23/9)

Hinca mencontohkan pelanggaran soal atribut Partai. Menurutnya, dalam aturan kampanye damai, tak boleh ada atribut partai. Sebab, kesepakatan awalnya memang hanya memakai pakaian adat nusantara saja. 

"Misalnya, kan kita sepakat pakaian adat saja, damai dan tidak membawa partai, apalagi membawa atribut yang begitu banyak sehingga tidak terkesan kampanye," ucapnya.

Pendukung Jokowi-Maruf, memang tampak membawa atribut dukungan terhadap pasangan yang mereka dukung. Mereka mengenakan kaos dan membawa papan bertuliskan "Jokowi Amin No 01-Indonesia Maju". Padahal KPU tidak memperbolehkan penggunaan atribut semacam itu, dan menggantinya dengan yang telah disediakan oleh KPU.

Atas aksinya tersebut, SBY kemudian menginstruksikan Hinca untuk memimpin rombongan Partai Demokrat hingga acara tersebut selesai.
Hinca pun langsung mendapat instruksi dari SBY agar memimpin acara kampanye damai sampai selesai. 

Menurut Hinca, meski melakukan aksi walk out, tidak berarti SBY dan Demokrat tidak mendukung Pemilu damai. Menurut dia, SBY dan partainya tetap berkomitmen terhadap pelaksanaan Pemilu yang damai dan kondusif.

Sponsored

Hinca pun menegaskan bahwa pihaknya akan segera melayangkan surat protes kepada ketua KPU, Arief Budiman. Ia berharap dengan surat protes tersebut, nantinya KPU bisa berbenah.

"Saya telah menulis protes keras kepada ketua KPU, saudara Arief Budiman. Dan cc nya Ketua Bawaslu. Ketua bawaslu sudah jawab, katanya "saya sudah ingatkan tadi Pak Arief"," kata Hinca menerangkan. 

Ketua KPU Arief Budiman menanggapi aksi SBY tersebut. Dia mengakui, aturan agar tak menggunakan atribut partai dalam acara tersebut, diperuntukkan di dalam jalur karnaval.

"Sebetulnya sudah diatur itu semua yang berada di dalam jalur karnaval. Karena kalau di luar itu, KPU tidak bisa menuntut," kata Ketua KPU RI Arief Budiman di Jakarta, Minggu.

Selain itu, Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief, meminta relawan Joko Widodo, Projo, meminta maaf karena dinilai telah melakukan aksi provokasi terhadap rombongan SBY. Dalam akun Twitternya, Andi menyebut relawan Projo berteriak dan merangsek pada mobil karnaval rombongan SBY, untuk mendukung Jokowi.

Andi meminta Projo meminta maaf atas kejadian tersebut. Dia pun meminta aparat dan Jokowi untuk bertindak atas kejadian itu.

"Projo jangan seenak udel, aturan dibuat bukan untuk sakkarepe dewe. Nanti kader Demokrat seluruh Indonesia marah melihat kalian memperlakukan simbol partai Demokrat. Jangan hitung keberanian anda, kalkulasi juga kenekatan orang lain," tulisnya di akun Twitter @AndiArief.

Berita Lainnya