sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Daftar konglomerat terkaya Indonesia versi Forbes 2019

Kekayaan 21 konglomerat yang masuk dalam daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes 2019 mencapai US$78,5 miliar setara Rp1.099 triliun.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 08 Mar 2019 03:57 WIB
Daftar konglomerat terkaya Indonesia versi Forbes 2019

Kekayaan 21 konglomerat yang masuk dalam daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes 2019 mencapai US$78,5 miliar setara Rp1.099 triliun.

Majalah bisnis dan finansial asal Amerika Serikat, Forbes, kembali merilis daftar terbaru orang-orang terkaya di seluruh dunia atau "Forbes World's Billionaires 2019". 

Ada 21 taipan asal Indonesia masuk dalam daftar yang dipublikasikan pada Selasa (5/3) tersebut. Berikut adalah 10 nama pengusaha Indonesia teratas yang tercantum dalam daftar Forbes.

Michael Bambang Hartono. / Antara Foto

1. R. Budi Hartono dan 2. Michael Hartono

Budi Hartono dan saudara lelakinya, Michael Hartono, dinobatkan sebagai dua orang terkaya di Indonesia. Keduanya adalah pemilik Grup Djarum.

Lebih dari dua pertiga kekayaan mereka bersumber dari investasi yang mereka miliki di PT Bank Central Asia Tbk. (BCA). 

Tercatat, kekayaan Budi Hartono mencapai US$18,6 miliar (Rp260,4 triliun) dan Michael Hartono mencapai US$18,4 miliar (Rp257,6 triliun).

Sponsored

Berkat kekayaannya, Budi Hartono menduduki peringkat ke-54 dan Michael Hartono menduduki peringkat ke-56 dalam daftar orang terkaya dunia milik Forbes.

Keluarga Hartono membeli saham di BCA, setelah keluarga kaya lainnya, Salim, kehilangan kendali bank dalam krisis ekonomi melanda Asia pada 1997-1998.

Pada awalnya kekayaan keluarga itu bersumber dari tembakau dan kini masih merupakan salah satu pembuat rokok kretek terbesar di Indonesia.

Bersama saudaranya, Budi Hartono juga memiliki merek elektronik populer, Polytron, serta real estat besar di Jakarta.

Selain itu, kedua miliarder juga menjadi pemegang saham Razer Inc., perusahaan perangkat keras dan lunak gim yang bermarkas di Amerika Serikat.

Sri Prakash Lohia. / Forbes

3. Sri Prakash Lohia

Sri Prakash Lohia menyusul posisi kakak-beradik Hartono dengan kekayaan sebesar US$7,3 miliar (Rp102,2 triliun). Kekayaannya bersumber bisnis produksi produk polyester dan petrokimia.

Pada 1970-an, dia dan ayahnya pindah dari India ke Indonesia dan mendirikan Indorama Corporation, perusahaan pembuat benang pintal.

Kini perusahaan tersebut juga berbisnis petrokimia, serta menjadi produsen poliolefin, polietilena, polipropilena, serat poliester, filamen, benang pintal, kain, dan sarung tangan medis.

Lohia, yang kini menetap di London, tetap menjadi kepala perusahaan tetapi telah menyerahkan kendali kepada putranya, Amit, yang menduduki posisi wakil ketua.

Dato Sri Tahir. / Forbes

4. Dato Sri Tahir

Posisi keempat diduduki oleh Dato Sri Tahir, pengusaha yang mendirikan Mayapada Group, sebuah perusahaan dengan minat di bidang perbankan, rumah sakit, dan real estat.

Pria berusia 66 tahun itu memiliki kekayaan sebesar US$4,5 miliar (Rp63 triliun).

Putrinya, Grace, merupakan Presiden Komisaris Propertindo Mulia Investama, perusahaan properti yang terdaftar pada 2018.

Sedangkan istri Tahir, Rosy, adalah putri dari taipan Indonesia lainnya, Mochtar Riady.

Chairul Tanjung. / Forbes

5. Chairul Tanjung

Menempati urutan ke-568 di daftar orang terkaya dunia adalah Chairul Tanjung dengan kekayaan sebesar US$3,7 miliar (Rp51,8 triliun).

PT Chairul Tanjung Corpora atau lebih dikenal dengan nama CT Corp terkenal karena mengeluarkan kartu kredit, mengoperasikan hypermarket, dan memiliki stasiun TV.

Grupnya juga mengendalikan waralaba Wendy's di Indonesia dan memegang waralaba Versace, Mango, dan Jimmy Choo.

Pada November 2017, CT Corp menandatangani kesepakatan dengan AccorHotels of France untuk membuka 30 hotel di Indonesia.

Prajogo Pangestu. / Forbes

6. Prajogo Pangestu

Putra pedagang karet, Prajogo Pangestu, memulai kariernya di bisnis kayu pada akhir 1970-an.

Perusahaannya, PT Barito Pacific Timber go public pada 1993 dan berganti nama menjadi Barito Pacific setelah mengurangi bisnis kayu pada 2007.

Prajogo tercatat memiliki kekayaan sebesar US$3,5 miliar.

Pada 2007, Barito Pacific mengakuisisi 70% perusahaan petrokimia, Chandra Asri Petrochemical, yang juga berdagang di Bursa Efek Indonesia.

Kemudian pada 2011, Chandra Asri Petrochemical bergabung dengan PT. Tri Polyta Indonesia Tbk dan menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia.

Chandra Asri Petrochemical bekerja sama dengan pabrikan ban Prancis, Michelin, pada 2015 untuk mengembangkan pabrik karet sintetis di Indonesia.

Low Tuck Kwong. / Forbes

7. Low Tuck Kwong

Dikenal sebagai raja batu bara, Low Tuck Kwong yang lahir di Singapura merupakan pendiri PT Bayan Resources Tbk, sebuah perusahaan pertambangan batu bara di Indonesia.

Dia juga mengendalikan perusahaan pelayaran Singapura, Mahhattan Resources, dan memiliki kepentingan di The Farrer Park Company, Samindo Resources, dan Voksel Electric.

Low berada di belakang SEAX Global, yang membangung sistem kabel bawah laut untuk konektivitas internet yang menghubungkan Singapura, Indonesia, dan Malaysia.

Saat masih berusia 20 tahun, Low bekerja di perusahaan konstruksi ayahnya di Singapura dan kemudian pindah ke Indonesia pada 1972.

Kariernya melejit setelah membeli tambang pertamanya pada 1997. Kini dia memiliki kekayaan sebesar US$2,4 miliar.

Mochtar Riady. / Forbes

8. Mochtar Riady

Posisi orang terkaya kedelapan di Indonesia ditempati oleh Mochtar Riady dengan kekayaan sejumlah US$2,3 miliar.

Mochtar Riady merupakan pendiri Lippo Group yang kini dikemudikan oleh kedua putranya, James dan Stephen.

Lahir di Jawa Timur, Mochtar membuka toko sepeda pada usia 22 tahun dan terus membangun karier perbankan yang sukses hingga krisis keuangan pada 1997.

Kini, minat Lippo Group meliputi bisnis real estat, ritel, layanan kesehatan, media, dan pendidikan.

Saham Lippo jatuh ketika skandal dugaan suap terkait proyek Meikarta miliknya meletus pada Oktober 2018. Pihak Lippo telah membantah terlibat.

Theodore Rachmat. / Forbes

9. Theodore Rachmat

Dengan kekayaan US$1,7 miliar, Theodore Rachmat menduduki peringkat kesembilan orang terkaya di Indonesia versi Forbes.

Pria yang akrab disapa Teddy ini mendirikan Triputra Group pada 1998 dan kini memiliki empat lini bisnis termasuk agrobisnis, manufaktur, dan pertambangan.

Teddy memiliki saham minoritas di perusahaan batubara PT Adaro Energy Tbk, di mana dia menjabat sebagai wakil presiden komisaris.

Putranya, Ariano, adalah Wakil Presiden Direktur dan Wakil CEO dari perusahaan tersebut.

Dia mulai kariernya sebagai pembuat mobil di Astra International, yang didirikan oleh pamannya, William Soeryadjaya, pada 1968. Dia akhirnya menjadi CEO dari perusahaan itu.

Sedangkan putranya yang lain, Arief, mendirikan dan menjadi CEO dari PT Triputra Agro Persada Group, salah satu perusahaan kelapa sawit terbesar di Indonesia.

Martua Sitorus. / Forbes

10. Martua Sitorus

Selanjutnya adalah Martua Sitorus, dengan kekayaan sebesar US$1,7 miliar, yang merupakan pendiri Wilmar Interational pada 1991.

Martua turun dari dewan perusahaan Wilmar pada Juli 2018, perusahaan tersebut dinobatkan sebagai pedagang minyak sawit terbesar di dunia.

Langkah itu dia ambil beberapa hari setelah Greenpeace menuduh perusahaannya dan perusahaan saudaranya, Ganda Sitorus, GAMA Corp, telah memangkas ribuan hektar hutan.

Bekerja sama dengan grup Ciputra, Gamaland, membangun proyek 15 menara apartemen dan kompleks perbelanjaan di Jakarta. Kedua suadara itu juga berinvestasi di bisnis semen dan properti. (Forbes)