sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Sri Mulyani: Aramco diserang ancam ekonomi global

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan penyerangan Saudi Aramco berdampak pada ekonomi global, termasuk Indonesia.

Sukirno
Sukirno Selasa, 17 Sep 2019 06:08 WIB
Sri Mulyani: Aramco diserang ancam ekonomi global
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1986
Dirawat 1671
Meninggal 181
Sembuh 134

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan penyerangan Saudi Aramco berdampak pada ekonomi global.

Sri Mulyani menilai kebakaran instalasi minyak di Arab Saudi dapat menyebabkan kerentanan baru bagi kondisi perekonomian global.

"Ini adalah preseden yang belum pernah terjadi, pasti akan menimbulkan dampak vulnerability dari munculnya serangan tersebut," ujar Sri Mulyani saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (16/9).

Sri Mulyani mengatakan insiden ini dapat menjadi sumber ketidakpastian baru karena pasokan minyak dunia, yang sebagian besar disumbangkan Arab Saudi, dapat berkurang hingga 50%.

Untuk itu, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini akan mencari perkembangan baru terkait proses pemulihan dari kebakaran tersebut dan menimbang dampaknya kepada kinerja APBN.

"Disrupsi ini akan menimbulkan kenaikan harga, dan sudah terjadi kenaikan hanya dalam waktu sehari. Kita lihat dampaknya permanen atau hanya sementara," kata Sri Mulyani.

Kelompok gerilyawan Yaman yang bersekutu dengan Iran, Al-Houthi, pada Sabtu (14/9) menyerang dua instalasi minyak Arab Saudi, Aramco, termasuk instalasi terbesar pemrosesan minyak di dunia.

Pemerintah Arab Saudi menyatakan telah mengendalikan si jago merah, tanpa menjelaskan kondisi ini dapat mempengaruhi produksi minyak ekspor. Stasiun televisi negara itu menyatakan ekspor minyak berlanjut.

Sponsored

Serangan pesawat tanpa awak terhadap pengekspor minyak terbesar di dunia dilakukan saat raksasa minyak negara tersebut, Aramco, mempercepat rencana bagi penawaran terbuka awalnya pada tahun ini.

Peristiwa tersebut terjadi setelah serangan lintas-perbatasan terhadap instalasi minyak Arab Saudi dan tanker minyak di perairan Teluk.

IHSG sempat menyentuh koreksi terdalam hingga 2,23% di level 6.193,51 pada Senin (16/9) pukul 14.34 WIB. / Bursa Efek Indonesia

IHSG dan rupiah

Seiring terjadi serangan Saudi Aramco, nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak terpuruk.

Rupiah kembali terdepresiasi menembus Rp14.000 per dolar AS. Rupiah melemah 75 poin atau 0,54% menjadi Rp14.042 per dolar AS dari sebelumnya Rp13.967 per dolar AS.

"Perkembangan di Timur Tengah kembali memanas akibat salah satu kilang minyak di Arab Saudi milik Saudi Aramco diserang. Dan Iran yang dijadikan kambing hitam," kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi secara terpisah.

Kenaikan harga minyak membawa sentimen negatif bagi rupiah, mengingat Indonesia adalah negara net importir minyak.

Jika harga minyak naik, maka biaya impor migas bakal semakin mahal. Artinya akan semakin banyak devisa yang 'terbakar' untuk impor migas dan membuat tekanan di neraca perdagangan dan transaksi berjalan (current account) meningkat.

"Saat devisa dari ekspor-impor barang dan jasa seret, maka fondasi penyokong rupiah menjadi rapuh karena bergantung kepada portofolio di sektor keuangan atau hot money yang bisa datang dan pergi sesuka hati. Oleh karena itu, rupiah akan rentan melemah," kata Ibrahim.

Setali tiga uang, IHSG juga ditutup di zona merah. Bahkan, IHSG sempat menyentuh koreksi terdalam hingga 2,23% di level 6.193,51 pada pukul 14.34 WIB.

IHSG akhirnya ditutup melorot 1,82% sebesar 115,4 poin ke level 6.219,43. Koreksi IHSG menjadi bursa saham berkinerja terburuk di ASEAN.

Tekanan IHSG terjadi lantaran investor asing membukukan aksi jual bersih alias net sell Rp558,92 miliar. Sehingga, capaian net buy investor asing sejak awal tahun menipis menjadi Rp56,24 triliun. (Ant)

Berita Lainnya