sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Oedipus complex: Kala cinta tak mengenal usia

Oedipus complex mirip laki-laki yang sudah punya istri, namun akan selalu meminta pertimbangan kepada ibunya.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 17 Des 2018 19:37 WIB
Oedipus complex: Kala cinta tak mengenal usia
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 130718
Dirawat 39017
Meninggal 5903
Sembuh 85798

Drama Oedipus

Istilah oedipus complex acapkali disematkan kepada laki-laki yang memiliki hasrat mendapatkan kasih sayang dari perempuan berusia lebih tua dari dirinya. Meski dirinya tak peduli dengan anggapan orang lain, istilah tersebut pun dialamatkan kepada Ari.

Oedipus complex pertama kali diperkenalkan bapak psikoanalisis asal Austria Sigmund Freud. Freud menggunakan istilah ini untuk menggambarkan seorang anak yang berkompetisi dengan ayahnya, untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang ibunya. Dalam kasus perempuan, kecenderungan ini disebut dengan istilah electra complex.

Menurut Freud, seperti yang ditulis Humberto Nagera dalam bukunya Basic Psychoanalytic Concepts on the Libido Theory (1990), oedipus complex merupakan batu pijakan bagi psikoanalisis. Istilah ini pertama kali muncul dalam karya Freud, A Special Type of Choice of Object made by Men, yang terbit pada 1910. Meski demikian, Freud sendiri sudah akrab dengan istilah ini sejak 1897.

Nagera menulis, Freud dalam karyanya The Interpretation of Dreams mendiskusikan konsep oedipus dalam koneksi antara seksualitas masa kanak-kanak dan legenda Oedipus. Freud mengambil istilah ini dari drama karya penulis Yunani kuno Sophokles, berjudul “Oedipus Rex” (Oidipus Sang Raja). Drama tragedi ini pertama kali dipentaskan pada 429 SM.

“’Oedipus Rex’ mengacu pada legenda raja kuno yang membunuh ayahnya, kemudian menikahi ibunya sendiri, dan membutakan matanya sendiri sebagai bentuk hukuman,” tulis Nagera dalam Basic Psychoanalytic Concepts on the Libido Theory (1990).

Sigmund Freud. (Commons.wikimedia.org).

Sponsored

Bergantung pada ibu

Menurut psikolog Friska Asta dari Lembaga Klinik Hati Jakarta, awal munculnya istilah oedipus complex ini cukup menuai kontroversi. Terutama terkait masalah seksualitas. Akan tetapi, seiring perkembangannya, oedipus complex banyak dilihat dari masalah relasi antara orang tua dan anak.

“Tak sekadar masalah seksualitas,” kata Friska, yang juga merupakan konsultan pendidikan anak ini, saat dihubungi, Senin (17/12).

Lebih lanjut, Friska mengatakan, oedipus complex ini mirip laki-laki yang sudah punya istri, namun akan selalu meminta pertimbangan kepada ibunya, sebelum memutuskan sesuatu.

“Contohnya dalam membeli lemari. Si laki-laki akan meminta pertimbangan ibunya sebelum membeli, karena percaya keputusan ibunya selalu tepat,” ujar Friska.

Dalam masa kanak-kanak, menurut Friska, bentuk keterikatan tersebut belum terlihat. Bahkan, katanya, hingga usia 10 tahun kemandirian si anak belum bisa terlihat.

Friska menyarankan agar orang tua memberikan keputusan kepada anak sejak dini, supaya anak tidak terkena oedipus complex. Misalnya, saat usia anak masih lima tahun, kata Friska, biarkan si anak merasa lapar dan meminta makan.

“Jangan dikejar-kejar, disuruh makan,” kata dia.

Saat sudah tumbuh dewasa, lanjut Friska, si anak yang memiliki oedipus complex bisa saja akan mencari pasangan yang mirip dengan karakter ibunya. Sebab, cara kerja kompleks oedipus tidak akan disadari.

“Selain itu, perwujudannya juga bisa saja si anak laki-laki akan mencari pasangan yang usianya lebih tua dari dirinya, karena dia telah terbentuk menjadi orang yang dijaga selama hidupnya,” ujar Friska.

Berita Lainnya